Thursday, 23 November 2017

Semenanjung Korea Krisis, Diplomat Indonesia Tetap Bertahan

Senin, 8 April 2013 — 19:58 WIB
Marty Natalegawa

JAKARTA – Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan Indonesia tidak akan menarik staf diplomatik dari Pyongyang, Korea Utara.

Korea Utara pada Jumat (5/4) mengeluarkan peringatan bahwa negeri itu tak dapat menjamin keselamatan para diplomat setelah tanggal 10 April bila terjadi konflik.

Perkembangan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea.

“Saya terus memonitor perkembangan dan berkomunikasi dengan Dubes Indonesia di Korea Utara setiap enam jam dengan mereka. Intinya ada 30 orang Indonesia yang ada di sana ditambah satu orang staf asal Mongolia,” kata Marty pada wartawan BBC Andreas Nugroho.

Ia mengakui ada sejumlah opsi evakuasi termasuk mengungsikan sanak keluarga para staf.

“Saya kira situasi ketegangan terus meningkat tapi kita juga hati-hati dalam bertindak supaya tidak mempertajam konflik yang terjadi di sana,” kata dia.

Saat ini, menurut Marty, perwakilan-perwakilan negara asing masih banyak yang memilih untuk mempertahankan staf diplomatik mereka di Korea Utara.
Ancaman serius

Peringatan akan keamanan staf diplomatik menyusul pernyataan pemerintah Korea Utara bahwa mereka “telah memberi persetujuan kepada angkatan bersenjata untuk melakukan serangan ke Amerika Serikat, termasuk kemungkinan menggunakan senjata nuklir.”

Pernyataan itu dikeluarkan ketika Amerika Serikat memperkuat sistem pertahanan rudal di sekitar pangkalan AS di Guam, Lautan Pasifik, dengan alasan ancaman Korea Utara masuk kategori sangat serius.

Para pejabat militer senior Korea Utara mengatakan serangan Amerika akan dibalas dengan serangan dengan skala yang lebih kecil, namun dengan menggunakan senjata nuklir.

“Kami sudah memberi tahu Gedung Putih dan Kementerian Pertahanan bahwa sikap keras dan ancaman nuklir Amerika akan kami balas dengan serangan, termasuk dengan menggunakan senjata nuklir,” kata juru bicara angkatan bersenjata Korea Utara. (bbc/d)