Kamis, 11 April 2013 09:11:21 WIB

Kepala BMKG

Cuaca Indonesia Panas, Tapi Masih Hujan

bmkg-sub

JAKARTA (Pos Kota) – Perubahan cuaca yang terlihat di seluruh wilayah Indonesia diyakini Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) masih akan terasa pada bulan April 2013 ini. Hujan lebat juga diperkirakan masih akan terjadi  di sebagian wilayah Indonesia.

“Untuk April 2013, fluktuasi cuaca masih akan terasa. Hujan lebat sampai sangat lebat akan terjadi di wilayah-wilayah Indonesia. Misalnya Aceh, Jambi, Jawa Barat, dan juga Banten. Jadi sekarang masih berada pada musim hujan,” jelas Kepala BMKG, Sri Woro B. Hariono, di Kantor BMKG, Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis.

Dia menjelaskan, perkiraan musim kemarau di wilayah Indonesia secara nasional, dari 342 zona musim (ZOM) kumulatif, hanya 32,5 persen, yang meliputi wilayah timur Indonesia. “Untuk musim kemarau yang akan lebih dulu merasakannya ada di wilayah timur. Nusa Tenggara dan sebagian Maluku Tengah. Sementara di wilayah lain musim kemarau baru akan masuk pada bulan Mei sebesar 64 persen dan juga bulan Juni sebesar 87 persen,” jelas Sri Woro.

Menurut dia, perubahan cuaca dan iklim yang terjadi di Indonesia masih normal, hanya perlu pendalaman terhadap masalah musim kemarau atau hujan. “Dari data-data yang kita terima, fluktuasi cuaca masih relevan dan normal. Masalahnya hanya pandangan masyarakat yang menganggap musim hujan tapi terasa panas dan sebaliknya. Itulah yang perlu kita beri pemahaman yang pasti,” jelas Sri Woro.

BMKG juga mencatat, perubahan iklim (climate change) yang disebabkan pemanasan global (global warming) telah menyebabkan terjadinya pergeseran awal musim setiap tahunnya.

“Dalam 30 tahun terakhir terjadi pergeseran awal musim sekitar 10-20 hari,” kata Kepala BMKG Sri Woro.

Dia mengatakan, pemantauan dan penelaahan BMKG terhadap perubahan iklim juga menyebabkan menaiknya permukaan air laut dan temperatur cuaca rata-rata di Indonesia dalam 100 tahun terakhir. “Temperatur cuaca naik 1,14 derajat Celsius sedangkan permukaan air laut naik 10 sentimeter,” katanya.

Ia menambahkan, dampak alami dari perubahan iklim itu dapat dilihat dari meningkatnya frekuensi peristiwa ekstrem seperti puting beliung, siklon tropis, gelombang tinggi, banjir, kekeringan dan kebakaran hutan.

Masalahnya, kata Sri Woro, langkah-langkah yang dilakukan dalam menghadapi perubahan iklim itu sering tidak bersinergi antarsatu negara dengan negara lain. Hal itu disebabkan tidak adanya kesamaan persepsi antarberbagai pemimpin negara mengenai kondisi yang ada, baik terkait perubahan iklim, pemanasan global maupun proses adaptasi dan mitigasi perubahan yang terjadi.

Ketidaksepahaman itu dapat dilihat dari pandangan terhadap pemanasan global yang di satu sisi disebut karena adanya penumpukan C02 dan gas-gas lain di atmosfer. Zat-zat yang dipancarkan ke angkasa itu dikembalikan ke bumi dengan suhu panas yang dirasakan manusia menjadi pemanasan global.

Sedangkan, dalam hukum kekekalan energi, suhu panas itu tidak akan hilang karena berubah bentuk menjadi beberapa energi seperti energi potensial berbentuk hujan, energi kinetis berbentuk angin kencang dan puting beliung, serta energi kalor berbentuk suhu panas.

(aby/sir)

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.