Kamis, 11 April 2013 — 10:48 WIB

Prahara Lewati Batas

BUNUH diri seorang direktur di kawasan Sunter, Jakarta Utara, menarik untuk dicermati. Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara, polisi untuk sementara menyimpulkan, nyawa merenggang akibat ledakan senjata api jenis Barette 9 mm pada mulut pelaku. Proyektil bersarang dan meretakkan bagian belakang tengkorak.

Jasad ditemukan di sekitar kantornya pada pagi hari oleh seorang karyawan. Bagian yang menarik dari kejadian ini antara lain sebelum tewas yang bersangkutan di rumah sempat bertengkar dengan istri.

Polisi belum mengungkap penyebab pasangan ini terseret prahara rumah tangga hingga sang suami memilih kematian dengan cara tragis. Begitu pendek jalan yang harus ditempuhnya. Dunia bagai seluas daun kelor saja!
Dewasa ini menggejala lunturnya akal sehat di  lingkungan keluarga.  Persoalan sepele menjadi sumber letupan emosi hingga tembus ke ruang publik. Banyak suami disiksa istri. Banyak pula  istri dianiaya suami.

Kegaduhan di media massa mempertontonkan artis Adi Bing Slamet berseteru dengan Eyang Subur dan melebar kemana-mana bagian dari fenomena yang terjadi. Kesakralan hubungan suami-istri dibuatnya jadi goyang. Jampa-jampi paranormal diyakini menjadi penentu mada depan kehidupan keluarga.

Menurut hemat kita, problema keluarga yang sudah kelewat batas normalini  pantas mendapat perhatian bersama. Generasi macam apa yang tampil pada masa mendatang bila interkasi ibu-bapak serta lingkungan keluarganya seperti itu?
Tanggung jawab sosial paling dekat guna mengurai persoalan, sepatutnya dilakukan oleh kelompok pengajian, Organisasi PKK atau lembaga kemasyarakatan setingkat itu yang banyak dijumpai  di tingkat lingkungan RT/RW. Keluarga sakinah, mawadah, warahmah (tenteram, saling cinta dan sayang) adalah benteng pencegah malapetaka.

Sejak bangsa diguncang perseteruan antar-elit politik disertai keganasan mega korupsi,  mulai saat itu pula agenda pembangunan keluarga sejahtera buyar. Penyakit konsumersime bercampur prilaku pragmatis merontokkan ketahanan mental. Hanya karena berpertengkaran suami-istri, menembak kepala sendiri.

Kita mengharapkan agar pemerintah pusat maupun daerah agar kembali peduli. Upaya meminimalisir prahara dibutuhkan campur-tangan dalam bentuk pembangunan karakter keluarga tangguh berkelanjutan.***


Induk

Rabu, 2 September 2015 — 5:14 WIB
Membidik Capim KPK
Selasa, 1 September 2015 — 5:22 WIB
Stop Impor Pekerja Asing
Senin, 31 Agustus 2015 — 5:51 WIB
Beban Jalan Raya Harus Dikurangi
Jumat, 28 Agustus 2015 — 5:15 WIB
Pekerja & Penjahat Asing, Serbu Indonesia
Kamis, 27 Agustus 2015 — 5:21 WIB
Solidaritas Hadapi Krisis

Kopi Pagi

Senin, 31 Agustus 2015 — 5:55 WIB
Polwan Bukan Pelengkap
Kamis, 27 Agustus 2015 — 5:21 WIB
Rembuk Ekonomi Nasional
Senin, 24 Agustus 2015 — 5:30 WIB
Revolusi Komunikasi
Kamis, 13 Agustus 2015 — 5:20 WIB
Momok MOS
Senin, 10 Agustus 2015 — 5:25 WIB
Dilema Pilkada

Bang Oji

Selasa, 1 September 2015 — 23:08 WIB
Boleh Juga
Rabu, 26 Agustus 2015 — 5:36 WIB
Insentif PBB
Rabu, 19 Agustus 2015 — 6:21 WIB
Kok mau Kalah?
Rabu, 12 Agustus 2015 — 5:33 WIB
Tertibkan
Rabu, 29 Juli 2015 — 5:09 WIB
Apa Bisa ?

Ekonomi Rakyat

Selasa, 8 April 2014 — 2:18 WIB
Menghitung
Selasa, 18 Februari 2014 — 13:35 WIB
Irit Listrik
Rabu, 15 Januari 2014 — 9:33 WIB
Maju Dengan Tempe
Selasa, 31 Desember 2013 — 9:50 WIB
Carmat Namanya…
Jumat, 4 Oktober 2013 — 9:53 WIB
Mudik dan PKL

Dul Karung

Sabtu, 29 Agustus 2015 — 2:12 WIB
Anak Muda yang Hebat-hebat
Sabtu, 15 Agustus 2015 — 6:29 WIB
Pidato dan Kerja
Sabtu, 8 Agustus 2015 — 3:44 WIB
Bela Koruptor? Haram!
Sabtu, 25 Juli 2015 — 6:23 WIB
Sumber Daya Otak
Sabtu, 4 Juli 2015 — 6:01 WIB
Mobil Dinas Bukan Mobil Dinasti