Sunday, 23 September 2018

Bila Selingkuh `Dikurs` Dengan 100 Sak Semen

Senin, 15 April 2013 — 8:49 WIB
nah-sub

RUPIAH dikurs dengan dolar itu biasa. Tapi di Sijunjung (Sumbar) praktek perselingkuhan bisa “dikurs” dengan 100 sak semen. Korban terakhir adalah seorang PNS bernama Takim, 50, dia dipaksa wali nagari (pamong) bayar 100 sak semen, gara-gara kepergok mesum dengan Halida, 35, bini sopir mobil Pemkab.

Dulu harga semen dikendalikan pemerintah, sehingga ada istilah HET (Harga Eceran Tertinggi). Kala itu harga semen masih wajar-wajar saja, sehingga harga rumah BYN bisa lebih murah. Tapi setelah HET dihapuskan, harga semen kini tak terkendali, sehingga dengan harga Rp 60.000,- an persak, menjadikan semen Indonesia termahal di dunia. Para anggota REI pun kaing-kaing, karena biaya membangun 40 persen didominasi oleh harga semen.

Kini Takim, PNS di Dinas Kehutanan Sijunjung juga kaing-kaing (baca: teriak), karena dipaksa bayar denda senilai Rp 6 juta gara-gara bermesum ria dengan Ny. Halida, istri seorang sopir mobil dinas Pemkab Sijunjung. Bayangkan, dengan harga semen sekitar Rp 60.000,- persak di kotanya, itu kan sama saja dia harus merogoh kocek Rp 6 jutaan hanya untuk kenikmatan sesaat. Mana mungkin, perut keluarganya kelaparan sebulan gara-gara dia memanjakan urusan yang di bawah perut?

Meski Takim pegawai Dinas Kehutanan, bukan berarti bergaulnya dengan penghuni hutan dari kera, serigala, sampai macan. Di kotanya, dia bisa juga bergaul dn menggauli perempuan cantik. Padahal sebetulnya istri sendiri cukup cantik. Kenapa dia sampai setega itu? Masalahnya, meski cantik tapi kan tidak tinggal di rumah. Istrinya justru jauh di Pasaman. Ibarat termos isi minuman, ketika haus masak harus jauh-jauh ke Pasaman dulu hanya untuk berburu termos?

Awalnya Takim juga tak berani menyelingkuhi Ny. Halida. Ternyata dia juga wanita yang kesepian di tempat ramai. Bagaimana tidak? Meski punya suami dan sudah punya tiga anak, tapi Rustam, 40, tak mengurus keluarganya secara baik. Dia jarang pulang ke rumah, karena kesibukannya jadi sopir kantor, ngkali.

Nah kesepian ketemu kesepian, akhirnya pun jadi. Sejak 7 tahun lalu Halida disuruh tinggal di rumah kos dengan biaya tanggungan Takim. Tanpa menikah resmi tentu saja, keduanya sering tinggal berdua. Dan meski tak menikah resmi itu pula, Halida dengan rela diperlakukan bak istri Takim, sehingga secara rutin harus melayani kebutuhan biologis oknum PNS di Dinas Kehutanan itu. Dari kerjasama nirlaba selama sekian tahun itulah, seorang anak telah lahir.

Namanya tinggal di rumah kos-kosan, Takim – Halida tak pernah tinggal lama di suatu tempat. Karenanya lingkungan sekitarnya tak tahu persis kondisi sebenarnya pasangan laki perempuan itu. Para tetangga menganggap mereka suami istri yang sah. Mana mungkin warga akan mengecek segala surat nikah mereka.

Tapi saat Takim – Halida tinggal di kampung Muaro Sijunjung, wali nagari setempat rupanya cukup berpengalaman. Dengan cepat dia menangkap kesan bahwa “suami istri” itu bukan suami istri. Atas nama wali nagari, Takim digerebek dan diminta menunjukkan surat nikah. Ternyata tidak bisa. Bahkan dalam pemeriksaan, Takim – Halida mengakui anak ke-4 mereka hanyalah hasil kerjasama nir laba itu tadi.

Sebagai konsekuensi sanksi adat, keduanya dipaksa membayar denda adat berupa 100 sak semen. Paling sial, meski sudah bayar denda wali nagari masih meneruskan juga kasus kumpul kebo itu ke Polres Sijunjung. Ini kan sama saja repot dua kali. Sebab bila suami Halida tidak terima, Takim bisa masuk penjara gara-gara jadi lelaki senior (senang istri orang).

Kena delik aduan gara-gara “mengadu” sesuatu. (JPNN/Gunarso TS)