Kamis, 18 April 2013 20:28:37 WIB

Iyus Djuher “Mainkan” Lahan Konservasi untuk Pemakaman Eksklusif

Iyus Djuher-Ant

JAKARTA (Pos Kota) – Sebagian lahan dari seluas 100 hektar di Desa Antajaya, Kec. Tanjungsari, Kab. Bogor, yang dikaitkan dengan kasus dugaan suap PT Gerindo Perkasa kepada Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Iyus Djuher, ternyata merupakan lahan konservasi Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Bogor, Jawa Barat.

“Infonya itu ada milik warga, Perhutani, dan daerah konservasi,” ungkap Juru Bicara KPK, Johan Budi SP, saat konferensi pers di gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (18/4).

KPK mengungkapkan, tanah itu rencananya dijadikan tempat pemakaman bukan umum (TPBU) oleh PT Gerindo Perkasa. Untuk melancarkan izinnya, Sentot Susilo, Direktur perusahaan yang bergerak di bidang niaga tersebut lantas menyuap Rp800 juta kepada Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Iyus Djuher, dan sejumlah pegawai Pemkab setempat.

Belum diketahui apakah uang tersebut merupakan total suap yang dijanjikan dan apakah ada pejabat terkait yang juga terlibat dalam kasus itu. Namun, KPK berhasil mengagalkannya sebelum lahan itu benar-benar berubah menjadi area pemakaman eksklusif. “Uang itu sebagai salah satu dari dua alat bukti yang cukup untuk menjerat mereka,” papar Johan.

Kasus ini terungkap dari operasi tangkap tangan (OTT) yang dilancarkan tim penyidik KPK, di rest area, Sentul, Jabar, Selasa (16/4) sore. Di lokasi itu, KPK membekuk Sentot Susilo beserta sopir pribadinya, pegawai Pemkab Bogor Usep Jumenio beserta sopir pribadinya, pegawai honorer Pemkab Bogor Listo Wely Sabu, dan pekerja swasta Nana Supriatna.

Sementara, di tempat terpisah, tim penyidik KPK lainnya menjemput Imam, seorang pekerja swasta yang diduga terlibat dalam kasus ini. Rabu (17/4) pagi, tim penyidik KPK meluncur ke Ciomas, Bogor, untuk menciduk Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Iyus Djuher, di rumahnya. Bersama Iyus, tim itu juga mengamankan seorang staf DPRD Kabupaten Bogor, Aris Munandar.

Setelah melakukan pemeriksaan secara intensif, akhirnya KPK hanya menetapkan lima dari sembilan orang itu sebagai tersangka. Mereka yakni, Iyus Djuher, Sentot Susilo, Usep Jumenio, Listo Wely Sabu, dan Nana Supriana.

Iyus, Usep, dan Wely dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 5 ayat 2 atau Pasal 11 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah menjadi Undang-undang nomor 20 tahun 2001 junto pasal 55 ayat 1 KUHP. Sedang Sentot dan Nana dijerat dengan Pasal 5 ayat 1 atau pasal 13 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah menjadi Undang-undang nomor 20 tahun 2001 junto Pasal 55 ayat 1 KUHP yang mengatur tentang pemberian suap kepada penyelenggara negara.

Adapun barang bukti yang disita KPK dari sejumlah tempat penggeledahan berupa uang Rp800 juta dalam tas ransel dan dua mobil, Toyota Rush dan Avanza. Sejumlah tempat yang telah digeledah yakni ruang kerja Iyus Djuher di DPRD Kabupaten Bogor, ruang kerja Bupati Bogor Rahmat Yasin, kantor Dinas Badan Pelayanan Terpadu (BPT), kantor PT Gerindo Perkasa di Cibubur Square, dan rumah Iyus di Ciomas, Bogor. (yulian/d)

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.