Pak Kepsek `Mencoba` Guru Masa Percobaan

Kamis, 25 April 2013
nah-1-sub

KASIHAN sungguh nasib Bu Guru Rustati, 37. Dia jadi guru statusnya masih honores alias masa percobaan. Tapi gara-gara cukup melek, akhirnya malah “dicoba” pula oleh atasanya yang Kepala SD. Celakanya, saat “uji coba” di hotel bersama Kepsek Suryadi, 53, eh terkena operasi Pekat.

Hingga kini masih ribuan guru honorer yang belum diangkat jadi PNS. Padahal banyak di antara mereka yang mengajar jadi “guru percobaan” atau honorer sudah puluhan tahun ibarat sampai jambul wanen. Tapi apa mau dikata. Meski anggaran Kemendiknas paling besar dari kementrian lain, sebagian besar memang sudah terkuras untuk menggaji guru dan dosen, termasuk tunjangan sertifikasi tentunya.

Salah satu guru honorer nan malang ini adalah Bu Guru Rustati, yang mengajar di sebuah SD Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten (Jateng). Sudah belasan tahun dia mengajar disitu, tetapi statusnya masih guru percobaan terus. Tapi karena dia senang berhadapan dengan anak didik, dia tak terlalu mempermasalahkan statusnya yang terus digantung, hanya menjadi guru Honda (Honor Daerah). Padahal kesempatan jadi PNS semakin kritis, mengingat usia maksimal jadi PNS hanya 40 tahun.

Adalah Pak Guru Suryadi, yang menjadi atasan Rustati di SD tersebut. Dia sangat kasihan pada nasib anak buahnya. Sehingga saking ibanya, wanita itu sering dapat tambahan uang ekstra dari Suryadi. Namun ternyata, uang tambahan itu bukannya cuma-cuma. Sebab Pak Guru diam-diam ada minat atas dirinya yang cukup cantik menjelang usia kepala 4. “Belum diangkat jadi PNS, tapi saya siap mengangkatmu ke atas ranjang,” begitu tekad Suryadi dalam hati. Begitu kotor memang.

Rupanya lama-lama Rustati menangkap gejala dan aspirasi urusan bawah atasannya itu. Karena di rumah juga sudah ada suami dan anak, mestinya dia tak menanggapi ajakan gila tersebut. Tapi lantaran dominasi syaiton demikian kuat,  dia tak mencoba menghindar saat Pak Guru Suryadi suka colak-colek atas dirinya. Prinsip Rustati mungkin, sepanjang jowal-jawil dan nggratilnya Pak Kepsek itu tidak dalam konsumsi publik atau dilihat orang, silakan saja.

Melihat sinyal-sinyal lampu hijau demikian kuat, Suryadi menjadi tambah berani. Beberapa hari lalu mereka jalan ke daerah Penggung Klaten Timur. Mereka pun kemudian masuk ke sebuah hotel kelas melati, dalam rangka “eksekusi” setelah sekian bulan menjalin koalisi non partai.

Bagaimana kisah di balik ranjang asmara itu, hanya menjadi rahasia mereka berdua. Yang jelas Suryadi tak menyesal mengeluarkan anggaran ekstra untuk “perburuan”-nya selama ini. Cuma ya itu tadi, ibaratnya orang makan baru cuci tangan, eh pintu kamar hotel digedor petugas Satpol PP dalam rangka Operasi Pekat (Penyakit Masyarakat). Tentu saja mereka belingsatan. Mengaku suami istri, tak punya surat nikah. Mau ngaku selingkuh, kok hina amat, Pak Guru dan Bu Guru kok bergendak ria di hotel.

Ketahuan bahwa keduanya oknum guru SD, kasus Rustati – Suryadi segera diserahkan ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pemkab Klaten. Sebagai anggota PGRI, sanksi mereka lumayan berat. Suryadi yang bakal pensiun 7 tahun lagi, naga-naganya bakal tidak terima uang pensiun lagi. Begitu juga Rustati, harapannya menjadi PNS dengan punya NIP sekian-sekian, bakal tinggal menggantung di awang-awang.

Padahal sudah kadung jebol punya gawang. (TN/Gunarso TS)

Tentang Kami

Poskota

Poskota, Poskotanews, Poskota Online adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT. Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.