Senin, 29 April 2013 13:33:02 WIB

Perbatasan Purwakarta-Karawang, Jalan Narogtog Tiga Tahun Rusak Parah

jalan2

PURWAKARTA (Pos Kota) – Jalan Narogtog semula hanyalah sebuah jalan perkampungan sepi. Lokasinya berada diperbatasan Kab Purwakarta dan Kab Karawang, jalan itu kini menjadi jalur perekonomian masyarakat menghubungkan dua kabupaten yakni Purwakarta dan Karawang.

Bagaimana tidak, diperkampungan yang hanya dihuni 86 keluarga itu, kini terbangun sejumlah perusahaan ‘raksasa’ bergerak di sektor industri. Tak hanya itu, letak geografis Narogtog di tepian Sungai Citarum, ‘memaksa’ Narogtog harus berlari mengikuti percepatan pembangunan disana.

Nun di seberang Narogtog yang terbelah oleh Sungai Citarum terdapat perkampungan warga Tegal Lega, Kec Ciampel, Karawang. Jarak tepian Narogtog dan Tegal Lega itu hanya 150 meter. Perbatasan ini terpisahkan aliran Sungai Citarum.

Seiring laju pembangunan, desakan masyarakat membuka jalur baru melalui Citarum begitu deras dikumandangkan masyarakat didua kabupaten ini. Hingga akhirnya, diretaslah moda transportasi air tradisional. Sebuah perahu bambu yang difungsikan untuk mengangkut warga menyebrangi Citarum. Tak lama kemudian, sejumlah pencetus moda transportasi Citarum ini menggantikannya dengan perahu ponton terbuat dari besi yang memiliki bobot 25 ton yang bergerak ditarik sling.

“Pemilik ponton ini ada lima orang. Kami membelinya dari perusahaan alat berat seharga Rp 72 juta kemudian dirancang menjadi sebuah perahu,” papar satu pemilik Ujang ditemui Pos Kota, Minggu (28/4).

Kelebihan perahu ponton ini, sebut Ujang, selain mengangkut orang, mampu menaikan sepeda motor dan mobil. Bahkan, ponton ini sangat kuat mengangkut dua kendaraan truk diesel. “Untuk angkutan orang dikenakan tarif Rp 2000. Tapi kalau orang dan motornya dinaikkan, tarif jadi Rp 5000,” ungkapnya.

Diakuinya, pada hari biasa pendapatan yang diraih berkisar Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu. Namun bila musim hajatan dan lebaran pendapatan meroket hingga Rp 2 juta/hari. “Itu pendapatan kotor karena terbagi dana pemeliharaan dan pembelian solar. Operasional ponton ini 24 jam dan menghabiskan solar 10 liter,” terangnya.

Tak hanya itu, lanjut dia, pihaknya mengalokasikan Rp 2 juta untuk membantu perbaikan jalan Narogtog ini. ” Kami menyadari bahwa jalan Narogtog ini kini ramai dilintasi pengendara motor penumpang ponton ini. Dari operasional ponton kita menyisihkan dana buat bantu perbaikan jalan,” ungkapnya.

Ketua RT 15 Kampung Narogtog, Dadang, mengakui intensitas lalu lintas baik sepeda motor maupun mobol di jalan Narogtog pada setahun terakhir ini cukup tinggi. “Jalan Narogtog ini jadi alternatif jalan bagi buruh pabrik di Karawang ke Purwakarta. Pun juga jalur ekonomi pengiriman hasil alam seperti truk truk mengangkut bambu dan lainnya,” tuturnya.

Hanya disayangkan, percepatan ini tidak dibarengi dengan kesiapan infrastruktur jalan. Sudah hampir tiga tahun ini, jalan Narogtog kondisinya rusak parah. Kondisi ini diperparah saluran drainase tak berfungsi baik. Pada musim hujan, air meluap dari selokan menggerus bebatuan jalan Narogtog. “Karena jalan rusak ini sudah tak terhitung pengendara motor jatuh,” imbuhnya.

Diungkapkan, pelaksanaan perbaikan jalan di Narogtog selama ini dilakukan secara swadaya yang dananya dihimpun dari masyarakat. Sebagian lagi dari pelaku industri di Narogtog. Termasuk menghimpun dana dari pengguna jalan Narogtog warga Karawang.

(dadan/sir)

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.