Senin, 29 April 2013 06:57:10 WIB

Pernikahan Dini Membuat Program KB Stagnan

stagnan294

JAKARTA (Pos Kota)- Program keluarga berencana (KB) di Indonesia stagnan dalam lima tahun terakhir ini. Salah satu indikasinya angka rata-rata kelahiran (total fertility rate) tidak berubah, tetap pada angka 2,6 per wanita usia subur. Artinya, pada setiap wanita usia subur, rata-rata terjadi kelahiran lebih dari 3 orang anak.

Menurut Plt Kepala BKKBN Soedibyo Alimoeso, stagnasi program KB antara lain dipicu oleh tingginya angka fertilitas remaja (ASFR) pada kelompok usia 15-19 tahun. Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menunjukkan ASFR mencapai 48 per 1000 wanita. Padahal rencana pembangunan jangka menengah (RJPM) menargetkan 30 per 1000 wanita.

Fakta tersebut tentu menjadi pukulan yang cukup telak bagi BKKBN. Bagaimana tidak, di tengah kemudahan akses informasi, ditengah makin membaiknya tingkat pendidikan generasi muda dan meningkatnya kesejahteraan penduduk, justeru hasilnya berbanding terbalik. Remaja yang memilih menikah usia dini dan memutuskan melahirkan anak pada usia muda jumlahnya justeru meningkat.

“Mestinya, semakin membaiknya tingkat pendidikan dan semakin tinggi nilai kesejahteraan, mendorong remaja berpikir lebih realistis untuk tidak mengambil risiko perkawinan dan melahirkan di usianya yang masih sangat muda,” jelas Soedibyo.

Ada sejumlah faktor yang diduga memberikan sumbangan cukup signifikan pada kasus meningkatnya ASFR ini. Diantaranya perilaku seksual yang tidak sehat di kalangan remaja di Indonesia khususnya yang belum menikah. Kasus seks pranikah ini cenderung meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun.

Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) yang dilakukan Kementerian Kesehatan di 4 kota besar yakni Medan, Jakarta Pusat, Bandung, dan Surabaya tahun 2009 menunjukkan bahwa 6,9 % responden telah melakukan hubungan seks pranikah. Survei juga menunjukkan bahwa sebanyak 1 % remaja perempuan dan 6% remaja laki-laki sudah pernah melakukan hubungan seks pranikah.

Hasil survey tersebut diperkuat dengan penelitian yang dilakukan Australian National University (ANU) dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI). Penelitian yang dilakukan di Jakarta, Tangerang dan Bekasi tahun 2010 dengan sampel 3.006 responden remaja usia 17-24 tahun menunjukkan bahwa 20.9 % remaja hamil dan melahirkan sebelum menikah. Selain itu dijumpai pula proporsi yang relative tinggi pada remaja yang menikah karena kehamilan yang tidak diinginkan.

PENGETAHUAN KESEHATAN

Mengapa kasus seks pranikah cenderung meningkat di kalangan remaja? Menurut Menkes Nafsiah Mboi, perilaku seks pranikah berhubungan erat dengan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi yang masih sangat rendah. SKRRI tahun 2007 menunjukkan sebanyak 13 % remaja perempuan tidak tahu tentang perubahan fisiknya dan hampir separuhnya tidak mengetahui kapan masa subur seorang perempuan.

Sedangkan mengenai mimpi basah, hanya 24,4 remaja laki-laki yang memiliki pengetahuan cukup baik dan pada remaja perempuan hanya 16,8%.

“Minimnya pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi terutama terkait dengan dampak seks pranikah inilah yang membuat angka perkawinan usia dini terus meningkat,” jelas Menkes.

Selain rendahnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi, usia kawin pertama wanita juga masih sangat muda. Target BKKBN untuk mengkampanyekan usia kawin pertama pada wanita minimal 21 tahun, diakui Menkes belum memiliki landasan hukum yang kuat.

“Undang-Undang Perkawinan nomor 1 tahun l974 pasal 7 mengijikan wanita menikah pada usia 16 tahun dan pria 19 tahun. Lalu UU nomor 23 tahun 2002 menyebutkan bahwa yang disebut sebagai anak adalah mereka yang berusia kurang atau sama dengan 18 tahun,” lanjut Menkes.

BKKBN sebagai salah satu instansi yang berwenang mengatasi masalah remaja terutama terkait permasalahan reproduksi remaja, sesungguhnya memiliki program prioritas. Melalui program Generasi Berencana (GenRe), instansi tersebut berupaya membidik 84 juta generasi muda usia 15-24 tahun untuk menciptakan model keluarga berkualitas.

GenRe dan PIK KRR

GenRe adalah generasi yang dapat menunda usia perkawinan, berperilaku sehat, terhindar dari risiko seksualitas, HIV/AIDS dan Napza.

Jauh sebelum diluncurkan GenRe, BKKBN juga telah membentuk PIK KRR (Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja). Organisasi ini dibentuk di sekolah-sekolah, universitas, organisasi kepemudaan, dan pesantren. Melalui PIK KRR remaja diharapkan memperoleh informasi dan konseling tentang reproduksi sehat dan memperoleh rujukan jika menemui masalah terkait kesehatan reproduksi.

Dua program tersebut baik GenRe maupun PIK KRR sesungguhnya sama-sama bertujuan membentuk generasi muda yang sehat dan memiliki rencana tentang pembentukan keluarga berkualitas. Dengan cara seperti itu diharapkan remaja bisa menunda perkawinan usia dini serta menghindari kehamilan pada usia yang masih sangat muda.

Lebih dari itu, GenRe dan PIK KRR mencoba membantu remaja menghadapi permasalahan dan tantangan yang ada dalam kehidupannya, serta membantu remaja melalui 5 transisi kehidupan dengan lebih baik. Lima transisi kehidupan tersebut yakni melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, mencari pekerjaan yang komprehensif dan kompetitif, memulai kehidupan berkeluarga yang harmonis, menjadi anggota masyarakat dan dapat mempraktikkan hidup sehat.

Namun, keberhasilan program-program BKKBN tidak akan berjalan dengan baik tanpa dukungan instansi lainnya yang terkait dengan program-program remaja. Selain itu peran masyarakat terutama tokoh agama, dan tokoh masyarakat sangat penting dalam menuntaskan permasalahan dikalangan remaja saat ini.

Generasi muda berkualitas, akan menjadi kunci keberhasilan Indonesia menyongsong windows opportunity. (inung)

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.