Minggu, 5 Mei 2013 10:39:18 WIB

Disekap Lima Bulan Tanpa Gaji

36 Buruh Kerja Paksa di Pabrik

buruh-sub

TANGERANG (Pos Kota) – “Alhamdulillah ada polisi yang datang,” ucap Irwan, 17, remaja tamatan SD asal Cianjur.

Irwan adalah satu di antara 36 buruh yang disekap dan dijadikan budak di sebuah pabrik panci di Tangerang. Dia mengaku selama 5 bulan bekerja ia dan teman-temannya tidak menerima gaji yang dijanjikan Rp600 ribu per bulan.

Di kantor polisi mereka diberi makan nasi bungkus dan Irwan tampak makan dengan lahap.

Praktik perbudakan di pabrik panci tersebut dibongkar aparat Polresta Tangerang. Selama berbulan-bulan disekap dan dipaksa kerja rodi tanpa gaji, puluhan buruh diperlakukan seperti hewan.

Mereka dipukul, disundut rokok bahkan disiram air panas bila dianggap pekerjaannya tidak becus. Polisi membebaskan 36 buruh dan menciduk suami istri pemilik pabrik bersama 3 centengnya.

Penderitaan para pekerja yang berasal dari Cianjur, Bandung dan Lampung, berakhir pada Jumat (3/5) sore. Tim Polresta Tangerang dipimpin Kasat Reskrim Kompol Shinto Silitonga, bersama anggota Komnas HAM dan Kontras, menggerebek pabrik yang berlokasi di Kampung Bayur Opak, Desa Lebakwangi, Sepatan – Kabupaten Tangerang.

Petugas mendapati puluhan pemuda berpakaian lusuh, celana compang camping dan kulit menghitam tengah bekerja membuat kuali, panci dan alat masak lainnya dari limbah alumunium.

Mereka tercengang seolah tidak percaya karena merasa ada malaikat penolong yang datang.

Menggunakan bus, 36 pemuda yang penampilannya tidak terurus itu diangkut ke Polresta Tangerang. Sebagian dari mereka menderita gatal-gatal, kurap, sesak nafas, mata menghitam tak baju lusuh karena tak pernah ganti.

Polisi mengamankan pemilik pabrik, Yuki Irawan, 41, serta tiga mandornya yang disebut para pekerja sebagai centeng yakni: Nurdin, 25, Sudirman, 34, dan Tedi Sukarno, 35.

“Tersangka Tedi menganiaya 16 buruh dengan menendang, menampar dan menyundutkan rokok,” ungkap Kompol Shinto Silitonga.

DISIKSA

Sabtu (4/5) siang polisi langsung menggelar rekonstruksi di pabrik yang berdiri di atas lahan sekitar 600 meter. Dari 83 adegan terungkap, para pekerja dipaksa menguras tenaga 18 jam setiap hari mulai Pk:06:00-Pk24:00. Mereka diberi makan dua kali sehari, pagi dan malam. Tidurnya, di dipan dalam satu ruangan yang pengap.

Mereka diawasi oleh tiga mandor alias centeng serta bos pemilik pabrik. “Kalau pekerjaan salah, mereka disiksa,” ungkap Ketua Komnas HAM Siti Noor Laila yang ikut dalam penggerebekan. Siksaan yang dialami pekerja yakni ditampar, ditendang, disundut rokok dan lainnya. Tak ada yang berani keluar dari lingkungan pabrik berpagar tinggi itu karena terus diawasi dan rumah pemilik ada di sebelah pabrik.

Penyekapan ini terkuak setelah dua pekerja asal Lampung, Andi Gunawan dan Junaidi berhasil kabur pulang kampung. Andi dan Junaidi bekerja di pabrik itu atas ajakan calo penjaring tenaga kerja pada Januari lalu. Saat baru tiba, tas pakaian dan HP diminta oleh centeng dan tidak dikembalikan.

Keluarga mereka langsung melapor ke Polda Lampung yang kemudian berkoordinasi dengan Komnas HAM serta Polresta Tangerang.

DARI KAMPUNG

Puluhan pemuda tersebut setelah dimintai keterangan dipulangkan ke kampung masing-masing. Polisi menghubungi perangkat desa untuk menjemput warganya. Lurah Desa Sukagalih, Kec. Cikalong Kulon, Cianjur, Ujang Safudin, datang bersama Asep (kades) dan Ujang Makmur (sekdes) menjemput 20 warga.

“Yang dari desa saya cuma tiga warga, 17 lainnya dari desa lain,” kata Asep. Tiga warganya, Uwah, 20, Rahmat Hidayat, 20, dan Irwan, 17, sejak 5 bulan lalu merantau ke Jakarta, tapi tidak melapor ke perangkat desa. Mereka dibawa pria bernama Taufik, calo.

“Warga saya itu cuma tamatan SD. Janjinya digaji Rp700 ribu sebulan, tapi nggak pernah dibayar,” ungkap Asep.

Menggunakan satu unit bus, para pemuda Cianjur itu tadi malam dibawa pulang ke kampungnya. Begitupula pekerja asal Lampung, oleh polisi dipulangkan ke kampungnya.

IZIN ILEGAL

Kapolresta Kombes Bambang Priyandogo mengatakan akan meminta keterangan perangkat desa dan kecamatan setempat. Soalnya, pabrik yang sudah beroperasi 1 tahun 6 bulan itu hanya mengantungi izin surat keterangan yang dikeluarkan oleh Kecamatan Cikupa, padahal lokasinya berada di Kecamatan Sepatan. Lagi pula izin seharusnya dikeluarkan oleh Dinas Perindustrian.

“Para tersangka dijerat pasal 333 KUHP dan pasal 351 KUHP tentang penyekapan dan penganiayaan,” tegas kapolres.

Disebut-sebut, pabrik itu dibekingi oknum petugas. Beberapa pekerja mengatakan mereka tak berani kabur karena selain diawasi centeng, juga kerap diintimidasi oleh oknum berseragam. Polresta Tangerang masih mendalami informasi tersebut. (maryoto/yp/ird)

 

Foto-Istimewa

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.