Wednesday, 21 November 2018

Jasad Dibawa ke Polresta Depok

Ibu Tiri Aniaya Bocah Hingga Tewas

Selasa, 7 Mei 2013 — 16:19 WIB
makam-sub

DEPOK (Pos Kota) – Diduga kerap menjadi korban penganiayaan oleh ibu tiri. Supriyadi beserta keluarga menggotong jasad anaknya sendiri dengan dibawa ke Polresta Depok untuk membuat laporan. Anaknya yang meninggal diduga akibat dianiaya oleh ibu tirinya sendiri.

Widiya Astuti,6, anak pertama perempuan pasangan Supriyadi,25, dengan (alm) Diah, 25, menghembuskan nafas terakhirnya dalam perjalanan. Ketika hendak dilarikan ke rumah sakit daerah Parung.

Menurut Ismail Tabrani, 43, paman korban, keponakannya meninggal saat akan dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar di daerah Parung.

Sebelumnya korban pada Senin (6/5) sekitar pukul 17.30 Wib, dikabarkan kejang dan mengeluarkan darah dari kuping. Saat itu juga korban bersama orangtua membawanya ke RS Cikaret, Cibinong, dirawat dalam ruang UGD.

“Ya, hanya dirawat selama 2 jam saja di ruang UGD. Karena biaya rawat inap untuk kamar semalam satu juta, pihak keluarga mengurungkan untuk dirawat dan minta dipindah ke rumah sakit Karya Bhakti daerah Parung yang lebih murah. Namun dalam perjalanan nyawanya sudah tidak tertolong lagi di dalam mobil,”ujar Ismail kepada Pos Kota di rumah duka Kp. Cinangka RT. 01/04, Tapos, Kota Depok, Selasa (7/5) siang.

Pengakuan Ismail, pada tubuh korban, terdapat luka memar belakang kepala, luka cakar tangan kanan, kuping mengeluarkan darah. “Santi alias Novi, ibu tiri korban telah mengaku jika sedang tidak ada suami (Supriyadi), dirinya kerap menyiksa korban dengan cara memukulnya dan mendorongnya,”tutur pria yang sempat merawat korban selama setahun ini.

Korban adalah cucu ke 7 dari Untung dengan (alm) Sukminah ini dikenal dalam keluarga sangat periang, dan bercita-cita ingin menjadi seorang model. “Anaknya periang, dan cantik. Korban mempunyai cita-cita jika besar nanti akan jadi model,”tambahnya.

makam-tengah
Ismail mengatakan, sebagai perwakilan keluarga dalam hal ini menuntut kepada pelaku yang berbuat sekeji ini. Untuk dapat dihukum seberat-beratnya. “Rencana setelah pulang dari visum di RS. Polri Kramat Jati, akan langsung dimakamkan di TPU Cilangkap,”ucapnya.

NIKAH SIRIH

Berdasarkan Keterangan Ketua RT 03/09, Jatijajar Estate, Tapos, Sugito, mengatakan selama tinggal mengontrak di tempat Sukimin baru lima bulan. Data yang dipegang hanya selembar surat keterangan nikah, sama kartu identitas saja.

“Mereka nikah dibawa tangan alias Nikah siri, karena tidak ada surat nikah resmi,”ujarnya kepada Pos Kota.

Sementara itu, Kasmira, pengurus kontrakan milik Sukimin mengatakan, keluarga ibu Santi baru tinggal lima bulan. Untuk menghidupi keluarga, Santi tidak bekerja. Ditopang oleh Supriyadi yang bekerja sebagai buruh kuli bangunan.
“Untuk bayar kontrakan rumah Rp. 175 ribu, yang bertanggung jawab penuh suaminya bekerja sebagai kuli bangunan. Sedangkan pelaku senddiri tidak bekerja,”tuturnya.

Kasmira menambahkan, pelaku tidak pernah bergaul dengan tetangga sekitar rumah. Termasuk korban, anak tiri pelaku tidak pernah bergaul sesama teman sebayanya.

“Korban selalu bermain sama piaraan kucing kampung bermana Cemong,”tambahnya.

“Sebelumnya korban pernah ikut mengaji di TPA bunda Oni. Hanya beberapa bulan mengaji, lalu tidak boleh ikut mengaji lagi.”

Sementara itu, tetangga sebelah rumah, Kartoyo, 33, mengatakan tidak pernah mendengar bertengkaran dari dalam rumah pelaku. “Tidak pernah dengar suara bertengkar. Tahu ada informasi begini dari teman-teman wartawan bahwa anak tirinya sudah meninggal akibat disiksa.”

Namun bersamaan dengan keluarga korban membuat laporan ke SPKT Polresta Depok, sambil membawa jenasah korban hanya dibalut kain sarung coklat motif coklat. Selain itu istri pelaku juga sudah diserahkan ke petugas Polresta Depok.

(angga/sir)

Teks Gbr- Jasad bocah perempuan dibungkus kain oleh nenek korban saat membuat laporan pembunuhan di Polresta Depok. (angga)