Monday, 24 September 2018

Industri Ramah Lingkungan Perlu Dapat Insentif Dari Pemerintah

Sabtu, 11 Mei 2013 — 17:46 WIB
MenPerin115

JAKARTA (Pos Kota) – Investor industri hijau (ramah lingkungan) butuh dukungan insentif dari pemerintah, baik dalam bentuk pemotongan harga pembelian mesin, perizinan maupun perpajakan.

“Insentif ini dibutuhkan dalam menghadapi pasar lokal maupun global, kata Menteri Perindustrian MS Hidayat, kemarin.

Ia mencontohkan, industri semen yang dituding sebagai kontributor utama emisi gas rumah kaca (GRK) tidak sepenuhnya benar. Karena industri semen justru menduduki peringkat pertama penerima penghargaan industri hijau.

Penghargaan industri hijau diberikan kepada industri yang telah menerapkan pola-pola penghematan sumber daya, termasuk penggunaan bahan baku dan energi ramah lingkungan, serta energi terbarukan.

Industri semen, lanjutnya, juga memperoleh peringkat emas. “Hal tersebut sekaligus membuktikan secara tidak langsung, industri nasional sebenarnya sudah mampu melakukan efisiensi energi dalam kegiatan produksinya dan menurunkan emisi gas rumah kaca,” kata Hidayat.

Ia mengungkapkan ada 8 sektor industri yang tergolong berkontribusi besar dalam emisi GRK. Yaitu industri semen, industri baja, pulp dan kertas, tekstil, keramik, pupuk, petrokimia, serta industri makanan dan minuman tertentu.

Menurutnya, pada 2000 emisi GRK adalah 1,3 juta Gigagram CO2 setara dan sektor industri berkontribusi 3,12 persen dari proses produksi dan 9,63 persen dari penggunaan energi.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofyan Wanandi mengatakan harus ada standard industri. Industri hijau itu seharusnya seperti apa, disesuaikan dengan lingkungan yang ada, bagaimana tingkat kompetisi yang dihadapi, karena sesungguhnya perwujudan industri hijau pada akhirnya akan memberi dampak peningkatan daya saing produk industri, sehingga diharapkan mampu bersaing di pasar global.

“Kami tidak khawatir kondisi ini diterapkan kepada industri besar dan menengah. Kami justru lebih khawatir kepada kelompok industri kecil dan menengah, yang rentan kepada setiap perubahan. Selain itu sifat usaha padat karya industri di Indonesia juga harus menjadi satu pertimbangan, mengingat perlakuannya harus berbeda dalam hal penerapan standard untuk industri hijau,” kata Sofyan.(Tri)

Menteri Perindustrian MS Hidaya

  • sseffendy

    Karena industri umumnya mendatang polusi lingkungan kebanyakan negara2 maju menempatan industrinya di tepi pantai bukan di gunung atau di tempat2 yang sejuk2 yang mengkibatkan saluran tertier sungai tercemari oleh industri. Akibatnya lihat kalau musim kemarau sungai2 di jawa colorful tidak bisa untu airminum atawa persawahan. Salah kaparah ini agar di sudahi. Write off saja. Bikin Perencanaan yang baik. Mencegah lahan nkri ini tidak menjadi Ethiopia kelak. JAKARTA MISALNYA TAK PERLU INDUSTRI CUKUP PERDAGANGAN WISATA KONPERENSI SEMINAR PENDIDIKAN.. DKI POLA HIDUP BIAYA TINGGI. TIDAK COCOK BUAT INDUSTRI.