Nah Ini Dia

Kamis, 23 Mei 2013 10:46:02 WIB

Punya Bini Pusthun Kenapa Hanya Disiri?

-1-sub

ISTRI kedua Susmanto, 37, sebenarnya cukup pusthun (baca: cantik) mempesona, tapi karena takut bini tua, jadilah Atikah, 28, hanya dinikah siri. Keluarga istri pun selalu menuntut nikah resmi, tapi entar-entar melulu. Warga pun geregetan, sehingga Susmanto disidang dan kemudian diserahkan polisi.

Kata para pelakunya –terutama pihak lelaki– menikah siri itu si-dikit ri-sikonya. Ibarat sepeda motor, sudah sah dicemplak, tak bakal disemprit polisi. Pokoknya anggaran murah meriahlah. Saat nikah cukup bayar honor kiai dan saksi, tak perlu bayar tukon (seserahan) dan pesta-pestaan. Misalkan cerai juga cukup panggil kiai lagi, tak perlu ke Pengadilan Agama. Maka sebetulnya jika mau jujur, target nikah siri sesungguhnya hanya satu, pemuasan syahwat tapi bebas laknat.

Susmanto warga Kebonagung, Porong, Sidorejo, Jawa Timur, termasuk lelaki yang punya pandangan seperti itu. Mungkin merujuk pada AF (bisa Ahmad Fathanah, bisa Aceng Fikri) ketika kemampuan kantong berbanding lurus dengan “si entong”, dia memilih jalur itu saat kesengsem pada gadis pusthun dari Dusun Pakel, Desa Piyaman, Kecamatan Wonosari (Gunung Kidul) DIY. Kala itu Susmanto berpikir, ngurus SIM dan BPKB belakangan, yang penting Honda Bebek itu sudah bisa dicemplak.

Awalnya keluarga Atikah keberatan, tapi karena si pusthun sudah demen banget sama Susmanto, ya sudahlah. Mereka pun menikah siri lewat kiai setempat, dan malam harinya Susmanto – Atikah “ngebut” dalam kecepatan 100 Km perjam. Dan sejak itu Susmanto jadi hobi mondar-mandir  ke dua istrinya. Pendek kata: Porong – Gunung Kidul, gak usah bengong pasti ndudul (nyogok).

Bagi Atikah memaklumi saja, karena itu resiko jadi bini kedua. Cuma doanya, janganlah Susmanto punya kelakuan seperti Ahmad Fathanah sekarang. Mentang-mentang banyak duit, setiap wanita pusthun dapat aliran, ya uang ya goyang. Memang tetap utuh itu barang, tapi pada dasarnya perempuan kan tak rela dia punya “keris” tapi warangka (sarung)-nya ada di mana-mana.

Tanpa terasa pernikahan siri Susmanto – Atikah sudah berjalan 5 tahun dan dari hasil kerjasama nirlaba itu telah menghasilkan seorang anak usia 4 tahun. Warga pun mulai rerasanan, mengingatkan janji Susmanto sebelum pencoblosan non Pemilu 5 tahun lalu. Mertua Susmanto yang berarti juga orangtua daripada si pusthun Atikah, menjadi risi atas sindiran para tetangga. “Kok kaya anggota DPR ya, sudah janji pada rakyat tapi tak ditepati,” begitu ledekan yang masuk telinga sang mertoku.

Ayah Atikah pun menagih janji Susmanto, tapi jawabnya tarsok-tarsok melulu. Warga yang mendengarnya tentu saja geregetan. Mereka menganggap bahwa Susmanto telah melecehkan lembaga pamong desa berikut jajarannya di Wonosari. Atas kesepakatan pamong, Susmanto – Atikah pun disidang, ditagih janjinya tempo hari.  Susmanto beralasan bahwa nikah resmi tetap menjadi program unggulannya, Cuma dananya yang belum cukup. Padahal alasan aslinya, tak bakal dapat izin prinsip dari bini tua di Porong sana.

Karena Susmanto tak bisa memberi jawaban pasti masalahnya lalu dilimpahkan ke Polres Gunung Kidul. Inilah yang gawat, sebab polisi siap menghadirikan bini pertama Susmanto yang di Porong. Bagi Susmanto, jelas ini menjadi buah simalakama. Tak segera nikah resmi bakal dilaporkan ke istri pertama, sedangkan mau nikah resmi juga tak bakal dapat izin istri pertama. Bagaimana enaknya ya?

Nyemplung luweng saja, Mas. (HJ/Gunarso TS)

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.