Thursday, 25 April 2019

KEA Diberlakukan, Insinyur Indonesia Ketar-ketir

Jumat, 24 Mei 2013 — 17:04 WIB
insinyur245

JAKARTA (Pos Kota)-Komunitas Ekonomi ASEAN (KEA) yang diberlakukan tahun 2015 akan menjadi momok yang menakutkan bagi Indonesia. Taka hanya produk industri dalam negeri yang terancam, tapi penyedia jasa lokalpun akan direbut asing termasuk peluang kerja para insinyur lokal.

“Buat insinyur Indonesia memang tidak mudah menerima kenyataan ini. Karena itu kita harus benar-benar siap menghadapi,” kata Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Bobby Gafur Umar di sela-sela Rapimnas I PII yang dibuka Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto di Jakarta.

Menurut Bobby, meski Rapimnas tidak secara khusus membahas persoalan tersebut, tetapi langkah antisipasi menghadapi fakta itu tetap perlu dilakukan. Apalagi salah satu agenda Rapimnas kali ini adalah membahas kesiapan Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan 31 st Conference of ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO 31) November mendatang.

“Bayangkan, betapa menyedihkan jika bidang-bidang pekerjaan yang seharusnya bisa dilaksanakan oleh insinyur Indonesia ternyata dikuasai ‘insinyur impor’,” katanya.

Bobby menambahkan, jumlah insinyur Indonesia masih sangat sedikit dibanding negara lain di Asia. Saat ini jumlah insinyur Indonesia hanya 11 persen dari total sarjana yang ada. Sedangkan Malaysia dari seluruh sarjana yang dimiliki 50 persennya adalah sarjana teknik.

Kekurangan tenaga insinyur di Indonesia saat ini dirasakan. Sejumlah perusahaan konstruksi di Jakarta mulai menggunakan insinyur dari luar negeri seperti dari Filipina, India, Australia, Amerika Serikat, dan Inggris .

Wakil Ketua Umum PII Hermanto Dardak mengatakan, saat ini semakin sulit menemukan insinyur professional. Pasalnya banyak diantara mereka yang justru menekuni bidang lain seperti perbankan, media, serta bidang lain diluar disiplin ilmu yang dikuasainya.

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto saat membuka Rapimnas tersebut berpesan agar insinyur Indonesia lebih serius memperhatikan masalah lingkungan dan tata ruang dalam melaksanakan pembangunan. Sebab pembangunan yang kurang terkontrol justru akan menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat luas.

“Saya ingin apa yang dikerjakan para insinyur kita benar-benar memperhatikan masalah tata ruang dan lingkungan agar kedepan pembangunan yang kita lakukan tidak menimbulkan dampak buruk,”katanya. (faisal)

Teks : Jalan Layang Non Tol hasil karywa insinyur Indonesia

  • wkkk

    jadi buruh aja… bisa ikutan demo

  • surghani shamad e

    SESUNGGUHNYA NKRI JAUH2 HARI SUDAH TAHU. ANTISIPASI JUGA DI LAKUKAN. NAMUN KURANG OPTIMAL. KARENA PERCAYA DIRI YANG BERLEBIHAN.

  • jeje

    kenapa beralih ke perbankan dan bidang lain para insinyur kita? karena kurangnya daya serap untuk para insinyur sehingga beralih ke propesi lain, dan kurangnya peran serta dari pemerintah sendiri

  • JONO

    saya insinyur sipil jakarta, lulusan PTN negeri di depok, gaji rata 2x Insinyur di jakarta Rp.6 juta, sedangkan gaji insinyur di malaysia or singapore 6x-10x gaji insinyur lokal, kemungkinan indonesia akan kekurangan insinyur lokal,karena insinyur lokal pasti akan memilih negara yg gaji nya besar, kalau saya malah berharap KEA dipercepat, agar Insinyur lokal gajinya ikut terdongkrak naik…….