Sabtu, 25 Mei 2013 09:29:01 WIB

Masuknya Indra WD ke Sel Menguak Rangkaian Kasus Penipuan Lain

Sel05n

JAKARTA (Pos Kota) – Masuknya Indra Warga Dalem ke Rutan Jambe, Tigaraksa – Tangerang, menguak rangkaian penipuan akta palsu yang dilakukannya, yang menimbulkan kerugian puluhan miliar rupiah para korbannya,  di sejumlah perusahaan dan yayasan.

yayasan Harapan Ibu

Sekolah milik Yayasan Harapan Ibu di Pondok Pinang, Jakarta Selatan.

Selain Yayasan Harapan Ibu, yang didirikan keluarga almarhum H. Adam Malik, kini muncul korban lain, yakni keluarga Muiz Murad di Kalimantan Timur.

Keluarga pendiri dan pemilik perusahaan Hak Penguasaan Hutan (HPH),  PT. Deasy  Timber itu berantakan dan kehilangan hak atas perusahaannya setelah pelaku Indra WD alias Indra WD masuk ke dalam perusahaan mereka.

“Apa yang terjadi dengan Ibu Juliani Malik menimpa kami. Sama persis, “ kata Jali, keponakan Muis Murad, melalui telepon. “Modusnya sama, menggunakan notaris yang sama. Awalnya kami minta Indra DW membenahi manajemen perusahaan, tapi malah membuat keluarga kami konflik satu sama lain, lalu pelan-pelan dia menguasai perusahaan dan menendang kami, “ kata Yusuf Murad, bungsu keluarga Muis Murad.

“Orang itu memang cerdas dan lihai, tapi juga jahat sekali. Keluarga kami berantakan dan jatuh miskin, “ kara Yusuf, dalam wawancara di Senayan, Sabtu siang.

Secara khusus Jali dan Yusuf serta pengacaranya minta dipertemukan dengan Juliani Malik, sebagai pembina Yayasan Haraan Ibu, yang telah berhasil mengantarkan Indra DW ke dalam sel rutan Jambe, Tangerang.

“Kami sempat putus harapan. Tapi dengan masuknya pelaku ke penjara sekarang, kami berharap bisa mendapatkan perusahaan kami kembali. Orang seperti dia jelas membahayakan, “ kata Yusuf Muis, penuh emosi.

Juliani Malik mengungkapkan, Indra yang diundang sebagai penguacara dalam yayasan pendidikan keluarganya lalu membuat kubu-kubu, mempertajam konflik di antara pendiri yayasan, lalu pelan-pelan menguasai perusahaan lewat RUPS, dan kemudian menguasai perusahaan. “Selaku pendiri nama saya selalu ada di akta yang dia buat, tapi saya tidak boleh masuk ke sekolah itu, “ kata Juliani.

Yusuf Muis mengungkapkan hal senada, Indra WD bukan hanya menendang anggota keluarga pendiri perusahaan, di PT Deasy Timber, melainkan juga menghapus saham Pemda dan koperasi, yang menjadi kewajiban, sesuai keputusan Menteri Kehutanan, sehingga menimbulkan kemarahan DPRD Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

DPRD Kabupaten Berau Kaltim

Anggota Dewan mempertanyakan hilangnya saham Perusda dan sejumlah koperasi di  PT Deasy Timber, pada bulan Mei 2011 lalu . (Foto: Humas Pemprov Kaltim)

Pada Juni 2011 lalu, DPRD Kabupaten Berau mempertanyakan manajemen baru PT Deasy Timur yang diduga menghilangkan 10 persen saham milik Perusda Kehutanan, termasuk penghilangan 5 persen milik Ponpes Al-Banjari Balikpapan dan KUD Mufakat Biduk-Biduk Berau. Namun Indra WD selaku Dirut tidak hadir.

Yayasan Harapan Ibu, yang memiliki sekolah SD hingga SMA, dengan 1.300 siswa dan 200 guru, di lokasi elite Pondok Pinang, Jakarta Selatan,  memiliki aset senilai Rp.150 miliar, sedangkan HPH Deasy Timber lebih dari itu. “Untuk sekali pengiriman kayu nilainya Rp.40 miliar, “ ungkap Yusuf Muis.

Juliani Malik menyatakan, setelah Yayasan Harapan Ibu dan PT Deasy Timber, masih ada korban lain yang menyusul. “Saya diberitahu oleh aparat yang menangani kasus kami. Mereka ditelepon, mengaku sebagai korban Indra WD , dan akan melapor juga, “ kata cucu almarhum Wapres H. Adam Malik itu. (dms/d)

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.