Thursday, 15 November 2018

Siti Zuhro: Demokrasi Indonesia Demokrasi Topeng

Selasa, 28 Mei 2013 — 8:49 WIB
Foto- Siti Zuhro

Foto- Siti Zuhro

JAKARTA (Pos Kota) –  Pengamat Politik dari LIPI, Siti Zuhro, menegaskan mengatakan demokrasi yang dijalani bangsa Indonesia adalah demokrasi topeng. Para elit politik telah membajak demokrasi untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya saja sehingga tidak heran demokrasi digunakan untuk menutupi perilaku yang jauh dari nilai-nilai yang diperjuangkan reformasi dalam menumbangkan sistem otorianisme.

“Demokrasi kita itu hanya topeng saja. Sistemnya dan lembaga-lembaga memang telah memenuhi unsur-unsur negara yang demokratis, tapi demokrasi sendiri telah dibajak oleh para elit-elitnya untuk kepentingan pribadi dan kelompok saja,” ujar Siti  kepada wartawan di Jakarta, Senin (27/5).

Topeng demokrasi telah memberikan legitimasi pada para elit politik dari daerah sampai ke pusat untuk melakukan praktek-praktek yang jauh dari nilai-nilai demokrasi sebenarnya.Meski kekuasaan dalam sistem demokrasi saat ini yang terlihat seperti tidak terpusat pada sosok satu orang seperti dalam sistem otorianisme, namun pada kenyataannya kekuasaan itu masih terpusat pada patron penguasa.

“Demokrasi kita malah menghasilkanpolitik kekerabatan, suami, istri, anak, keponakan, menantu, besan dan sebagainya dipaksakan untuk ikut dalam memperebutkan kekuasaan. Demokrasi yang intinya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat pun tidak dirasakan dan terlihat maknanya,” tegasnya.

Siti  pun mencontohkan para bupati,walikota, gubernur,menteri sampai presiden memasukkan kerabat-kerabat dekat mereka untuk mendapatkan, menguatkan dan melanjutkan kekuasaan. ”Dari bupati sampai presiden melakukan itu. Lihat saja bagaimana orang-orang yang mengaku elit itu  memasukkan anaknya, istrinya, keponakannya, besan dan sebagainya ke dalam kekuasaan.Ini bukan sifat yang patut ditiru dan harusnya mereka malu,” tegas Siti.

Seharusnya, lanjut Siti, demokrasi yang kita anut adalah demokrasi archipelago dimana budaya bangsa ini yang terdiri dari berbagai macam suku, agama dan ras melerlukan tepo seliru.”Kalau dalam kontek politik, tepo seliro itu artinya bisa merasakan apa yang orang lain rasakan bukan seperti saat ini bentuk demokrasi  liberal yang banyak tergantung pada  uang baik sebagai tujuan maupun alat mendapatkan kekuasaan,” tegasnya.

Sistem demokrasi yang yang dipilih bangsa indonesia juga telah gagal menghasilkan pemimpin yang pro rakyat meskipun melalui pemilihan yang demokratis dipilih langsung oleh rakyat, tapi presiden  yang terpilih secara mayoritas ternyata juga berpihak pada rakyat.”Berarti memang ada yang salah karena yang dipilih rakyat ternyata tidak pro rakyat,” pungkasnya. (prihandoko/d)