Rabu, 29 Mei 2013 14:28:23 WIB

Antasari Terus Mencari Keadilan

antasari-azhar

JAKARTA  (Pos Kota) – Mantan Ketua Pemberantasan Korupsi (KPK), Antasari Azhar, hadir di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, hari ini. Kehadiran terpidana kasus pembunuhan Nasruddin Zulkarnaen, Dirut PT Rajawali Putra Banjaran ini terkait permohonan praperadilan atas laporan kasus teror SMS ke Mabes Polri, tiga tahun silam yang tidak ditindak lanjuti.

Tampil trendi dengan mengenakan baju batik lengan panjang, celana, sepatu dan peci warna hitam, bapak dua anak ini tiba di gedung PN Jaksel sekitar Pkl 10:OO WIB. Dengan pengawalan dari petugas Lapas Tangerang dimana mantan Kejari Jaksel ini menjalani hukuman 18 tahun penjara. Di ruang tahanan sementara pengadilan sudah menunggu sejumlah tim pengacaranya yang dikomandoi oleh Boyamin Saiman.

Puluhan wartawan cetak maupun elektronik saling berebut untuk mewancarai serta mengambil gambarnya. Wajahnya nampak berseri serta mengumbar senyum pada puluhan wartawan yang mengerubunginya. Antasari mengaku tidak henti untuk berjuang nasibnya guna mencari keadilan. “Sampe kapanpun saya terus berjuang atas nasib saya,” ujarnya sambil menambahkan permohonan praperadilan ini juga merupakan bagian dari perjuangan mencari keadilan dirinya dari putusan yang dianggap sesat.

Alasannya, dia menilai putusan yang menjatuhkan hukuman penjara 18 tahun dalam kasus pembunuhan Nasruddin Zulkarnaen, dianggap salah karenanya  eror in persona. Sekedar mengingatkan, kata dia dalam persidangan jaksa tidak pernah menghadirkan barang bukti baju korban, bukti tembakan dan masalah teror SMS. Kalau seandainya, baju korban bisa dihadirkan di persidangan akan diketahui kapan korban ditembak. Apakah sama dengan yang didakwakan oleh jaksa penuntut umum Cirus Sinaga? Namun, nyatanya sejumlah barang bukti yang dianggap penting itu tidak pernah dihadirkan di persidangan.

Menurut dia dengan hilangnya barang bukti tersebut, jelas akan sulit untuk mencari jejak siapa pelaku pembunuh sebenarnya! Tapi, ada apa dibalik itu semua,” kata kakek satu cucu ini bertanya. Dia berharap melalui perjuangan praperadilan ini, hakim Didiek Setyo Handono berani mengambil sikap dengan menegakkan keadilan  mengabulkan permohonannya.

Ditanya, kalau perjuangan ini ternyata nantinya kandas juga, Antasari menjawab “Saya serahkan pada Allah. Hanya sang kuasa yang tahu akan segalanya, termasuk nasib saya,” katanya.

Antasara kini sedang menjalani hukuman 18 tahun di Lapas Tangerang. Empat tahun sudah dia jalani dengan ikhlas. Selama berada di balik jeruji besi, Antasari sudah berhasil menyusun dua buku yang isinya seputar masalah dirinya yang tersandung kasus pembunuhan.

“Saya sudah punya cucu satu. Dia sering diajak besuk sama anak saya. Itu yang menjadi obat hati saya saat ini selama berada di tahanan,” tuturnya.

Dalam sidang permohonan praperadilan sayangnya pihak termohon dari Mabes Polri tidak hadir di persidangan. Karenanya, sidangnya terpaksa diundur sepekan lagi guna memanggil kembali kuasa hukum termohon.

(winarno/sir)

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.