Selasa, 4 Juni 2013 — 9:14 WIB

Habisi Senpi Ilegal

SENJATA api untuk  kesekian kali digunakan semena-mena. Jumat malam (31/5), menewaskan Tito Kei, pengacara, dan Ratim, pemilik warung kopi di Bekasi. Dua pelakunya masih misterius.

Upaya mengungkap pelaku, kemarin, Kapolda Metro Jaya Irjen Putut Eko Bayuseno menyatakan telah membentuk tim khusus untuk menyelidiki.  Kasus tersebut bagian dari sederet peristiwa penyalahgunaan senjata api (senpi) di kota kita dan sekitarnya.

Kebengisan pelaku dalam berbagai kejadian sangat mengerikan. Pelaku dari kalangan perampok, sesukanya memuntahkan peluru ke arah korban yang membawa uang dari bank, mempertahankan sepeda motor yang diparkir, hingga yang sedang berada di dalam rumah. Dari manakah mereka mendapatkan senpi?

Polisi kita belum mengungkap berapa banyak dan berasal dari mana saja senpi ilegal itu. Hanya Indonesian Police Watch yang santer menyebutkan bahwa di kota kita ada 8 ribu dari total 17 ribu pucuk senpi beredar di Indonesia.
Katanya, asal senjata ada dua kemungkinan. Pertama,  sisa kepemilikan sejak polisi mengizinkan warga sipil menggunakannya. Sesuai dengan Peraturan Kepala Kepolisian RI Nomor 82 Tahun 2004, mereka yang diberi hak adalah kalangan pejabat pemerintah, swasta, pengacara, dokter hingga pejabat di DPR-MPR RI. Walau peraturan sudah dicabut pada tahun 2005, belum semua dikembalikan kepada yang berwajib.

Kedua, senpi dari hasil rakitan dan lainnya. Perdagangan alat pembunuh tersebut berkisar antara Rp1,5 juta hingga Rp8 juta per unit. Banyaknya senpi liar itulah menjadi faktor pendorong kejahatan disertai penembakan korban.
Bahaya senpi di tangan warga sipil bukan hanya di kota kita. Presiden Amerika Serikat Barack Obama pun merisaukan keselamatan warga negaranya dari perbuatan brutal  orang-orang bersenjata.

Tragedi penembakan 26 orang termasuk 20 pelajar oleh warga sipil di SD Sandy Hook, Newtown, membuat Obama  menangis. Kepedulian agar tak terulang, presiden yang pernah sekolah di SDN 01 Menteng, Jakarta Pusat itu, kini menerbitkan aturan pengetatan perizinan disertai tindakan tegas aparat yang berwenang terhadap pelanggar.

Kita mengharapkan kepedulian setingkat itu dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menghabisi senpi ilegal dan kebutralan bersenjata. Hanya anggota angkatan bersenjata dan Polri yang berhak menggunakan senjata api. Aparat sipil seperti anggota satpam, satuan polisi pamong praja, petugas dinas perhubungan dan lainnya tidak lagi diberi hak.

Ancaman hukuman 5 tahun penjara  juga agar ditegakkan setegak-tegaknya. Kita mendukung langkah Kapolda Metro Jaya membentuk tim khusus menyelidiki kasus penembakan Tito Kei dan Ratim. Lebih mantap lagi bila mengerahkan anggotanya  untuk menangkapi dan memenjarakan semua pemilik senpi  ilegal. ***


Induk

Kamis, 2 Juli 2015 — 6:23 WIB
Misteri Lukisan Pejabat DKI
Rabu, 1 Juli 2015 — 6:05 WIB
Reshuffle Kabinet Belum Jaminan
Selasa, 30 Juni 2015 — 5:41 WIB
Menjaga Netralitas POLRI
Senin, 29 Juni 2015 — 5:39 WIB
Mendekati Lebaran, Patroli Harus Ditingkatkan
Sabtu, 27 Juni 2015 — 6:11 WIB
Belum Saatnya Menaikkan Dana Parpol

Kopi Pagi

Kamis, 2 Juli 2015 — 6:23 WIB
Dekrit Presiden Kembali ke UUD 1945
Senin, 29 Juni 2015 — 5:38 WIB
Program KB
Kamis, 25 Juni 2015 — 5:38 WIB
Utang Luar Negeri
Senin, 22 Juni 2015 — 6:22 WIB
HUT Kota Jakarta
Kamis, 18 Juni 2015 — 4:48 WIB
Puasa dan Kepedulian Sosial

Bang Oji

Selasa, 30 Juni 2015 — 5:42 WIB
Mudik PP Bareng, Apa Iya ?
Selasa, 23 Juni 2015 — 6:13 WIB
Berkah
Selasa, 9 Juni 2015 — 5:37 WIB
Tahu Diri ….
Selasa, 26 Mei 2015 — 5:41 WIB
Buang Waktu dan Energi
Selasa, 19 Mei 2015 — 6:13 WIB
Dibikin Cantik

Ekonomi Rakyat

Selasa, 8 April 2014 — 2:18 WIB
Menghitung
Selasa, 18 Februari 2014 — 13:35 WIB
Irit Listrik
Rabu, 15 Januari 2014 — 9:33 WIB
Maju Dengan Tempe
Selasa, 31 Desember 2013 — 9:50 WIB
Carmat Namanya…
Jumat, 4 Oktober 2013 — 9:53 WIB
Mudik dan PKL

Dul Karung

Sabtu, 27 Juni 2015 — 6:05 WIB
Bisa gak Lebaran, nih.
Sabtu, 20 Juni 2015 — 5:50 WIB
Harapan di Awal Puasa
Sabtu, 13 Juni 2015 — 6:01 WIB
Dul Mau Menulis Buku Dahlan
Sabtu, 6 Juni 2015 — 5:34 WIB
Menang, Kalah, Seri, Sujud Syukur Terus
Sabtu, 30 Mei 2015 — 5:40 WIB
Dul Itu Bukan Gelar