Thursday, 19 July 2018

Ketika Istri Muda Minta Status Disamakan

Jumat, 7 Juni 2013 — 11:53 WIB
nah-sub

PERGURUAN tinggi minta status disamakan, itu lumrah. Tapi di Sumbar, Ny. Halida, 24, demo dengan bawa pecahan botol ke depan suaminya, minta status disamakan seperti istri tua. Ny. Haidar, 35,  sebagai istri perdana tentu saja tak merelakan, tapi malah ditusuk pecahan botol itu sampai kritis.

Yang namanya istri muda, biasanya hanya kuwat di aurat tapi tak lemah di surat. Maksudnya, dia dinikahi suami sekedar untuk memanjakan syahwat. Tapi soal dokumen pernikahan, banyak tak memiliki lantaran tak didaftarkan ke KUA alias hanya nikah siri. Padahal nikah siri itu tak ubahnya SIM sementara untuk sebuah kendaraan. Sudah bisa “dinaiki” dan takkan disemprit polisi, tapi tak boleh dibawa jauh-jauh.

Adalah Safrizal, 40, karyawan toko martabak di di Jalan M Yamin Kelurahan Belakangtangsi, kota Padang. Meski gajinya tak seberapa besar, tapi dengan pede-nya dia memelihara dua istri sekaligus. Haidar dinikahinya 10 tahun lalu dan dari hasil kerjasama nirlaba itu telah lahir beberapa anak. Meski penghasilan hanya pas-pasan, sangatlah bahagia pasangan itu.

Tapi seperti lazimnya lelaki di mana saja, suka bosan dengan obyek yang itu-itu saja. Safrizal demikian juga. Mengarungi kehidupan rumahtangga dengan isri yang itu-itu saja, rupanya dia terjebak pada rasa jenuh. Apa lagi semenjak beberapa anak lahir, Haidar tak lagi mau mengurus tubuhnya. Pantat turun, payudara juga turun, tapi Haidar tak mencoba bersolek diri bagaiamana agar bisa pulih kembali. “Memangnya mobil, kalau turun bisa dinaikkan pakai dongkrak,” tangkis Haidar manakala dikritik suami.

Di kala Safrizal dilanda kejenuhan rumahtangga, hadirlah gadis Halida yang cantik dan menggemaskan. Dia awalnya hanya pelanggan toko kue martabak itu. Tapi karena pegawai toko martabak itu ahli merayu, akhirnya “martabak” Halida kena juga oleh Safrizal. Dan kala itu, lantaran sudah kadung demen, meski hanya dinikah siri tanpa lewat KUA, Halida mau saja. Yang penting dapat jaminan sama selaku istri.

Awalnya Safrizal bisa mematuhi konsensus tersebut. Tapi setelah sekian lama jadi suami istri, lama-lama pegawai toko martabak ini kembali ke penyakit lama, bosan pada istri keduanya. Sehingga ibaratnya motor, sudah jarang dikendarai, paling main klakson saja, tet tot tet tot….. Paling parah, uang bulanan yang biasanya diterima setiap bulan, kini juga jarang-jarang diterima. Kasihan sungguh Halida kini, tak ada bonggol tiada pula bonggol.

Merasa haknya sebagai istri sudah tak diperhatikan, beberapa hari lalu dia nekad mendatangi tempat kerja Safrizal. Kebetulan pula di sana pas ada Haidar istri tua. Halida pun protes di depan khalayak, minta statusnya disamakan, macam perguruan tinggi saja. Di samping jaminan hidup diberikan secara ajeg, dia juga minta dikawin resmi di depan KUA. “Jadi kalau uda (kakak) ndak ada (mati), nasib aku dan anakku jelas,” tuntut Halida.

Tapi Safrizal tak bisa memberi reaksi cepat, malah bingung macam pemerintah menghadapi dilemma kenaikan harga BBM. Haidar pun ambil alih persoalan, tapi malah dilawan oleh Halida. Ributlah mereka. Saking kalapnya sang istri muda, wanita itu lalu memecahkan botol bir, lalu dipakai senjata melawan Haidar. Sekali sambar, leher istri tua terluka oleh pecahan botol. Kini dia dilarikan ke RSUP M Jamil, sedangkan Halida warga Banuaran, Lubukbegalung itu ditangkap. “Saya tak bermaksud membunuh maduku, hanya emosi sesaat,” katanya.

Meski sesaat. Jika sial nyawa bisa lewat. (JPNN/Gunarso TS)