Monday, 15 July 2019

Penggunaan Teknologi Nuklir Harus Diawasi

Kamis, 20 Juni 2013 — 8:07 WIB
xrayneh206

JAKARTA (Pos Kota)-Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), As Natio Lasman mengungkapkan, pemanfaatan tenaga nuklir untuk bidang kesehatan, energi dan industri terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Hal ini tentu membutuhkan pengawasan yang lebih ketat guna melindungi keselamatn penggunanya.

“Pengawasan pemanfaatan di sektor kesehatan terus kami lakukan, misalnya dalam pemanfaatan radiasi untuk diagnostik dan terapi agar risiko dapat ditekan serendah mungkin dan mencapai manfaat yang optimal,” ujarnya di sela Seminar Keselamatan Nuklir 2013 bertema ‘Dengan Semangat Kebersamaan, Kita Tingkatkan Sinergi Pengawasan Tenaga Nuklir’, kemarin.

Menurut Lasman, pengawasan pemanfaatan teknologi nuklir untuk berbagai kepentingan memang harus dilakukan karena tidak ada satu teknologi yang tidak berisiko. Pengawasan dilakukan agar pengguna yang memanfaatkan teknologi tadi seperti pekerja, masyarakat, dan lingkungan hidup, tetap berada pada koridor keselamatan dan kesehatan.

Berbagai bentuk pemanfaatan teknologi nuklir harus mendapatkan izin dari Bapeten. Misalnya, pemanfaatan iptek nuklir di bidang medis seperti penggunaan X-Ray, jika penggunaannya belum mendapatkan izin dari Bapeten, maka belum ada jaminan bahwa alat yang digunakan aman. Karena radiasi tidak berasa, tidak berwarna, dan tidak berbau.
Selain itu As Lasman juga mengatakan, Komisi Ekonomi Nasional (KEN) menginstruksikan pada 2025 Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) diIndonesia harus sudah beroperasi minimal dua persen dari total energi nasional. Jika total energi yang dibutuhkan mencapai 80 GW, maka energi PLTN mencapai 4000-7000 MW.

“Presiden SBY sendiri sudah mengintruksikan agar sosialisasinya terus dilakukan,” tambahnya.
Bapeten sendiri bukan sebagai pihak yang membangun PLTN, bukan pula Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), melainkan pihak BUMN, swasta, atau koperasi. Meski begitu, semua peraturan tapak PLTN sudah dipenuhi dan pada 2013 ini studi tapak berakhir.

Badan Tenaga Nuklir Internasional (IAEA) memproyeksikan pertumbuhan PLTN pada 2030 antara 30%-100% dengan kontribusi utama berasal dari kawasan Asia. Di kawasan ini diprediksikan akan ada 1000 lagi PLTN, yang sekarang baru mulai dibangun sebanyak 550 PLTN. Sebanyak 321 tersebar di Asia, Cina, Korsel, dan India, sisanya di negara Eropa. Saat ini sebanyak 442 PLTN tersebar di berbagai negara. Sejumlah 104 di Amerika Serikat, selebihnya di Perancis, Jerman, dan Asia. (faisal)

Ilustrasi