Monday, 19 November 2018

Baru Istri Telepon Cowok Suami Menuduh Selingkuh

Kamis, 27 Juni 2013 — 14:30 WIB
nah-sub

JENJANG pendidikan Martoyo, 25, mungkin SD saja tidak tamat kali ya, sehingga picik banget jadi orang. Hanya istri asyik telpon-telponan dengan cowok, langsung dituduhnya selingkuh. Paling sadis, lelaki katrok ini langsung mencekik Ngatini, 18, istrinya hingga wasalam.

Bahwa pendidikan sangat mempengaruhi sikap dan mental seseorang, itu tak terbantahkan lagi. Orang berilmu dikendalikan oleh pikiran, sedangkan orang bodo oleh perasaan. Tegasnya lagi, orang pintar pakai otak, orang bodo pakai otot. Makanya orang bodo saat kecelakaan mobil pun takkan gegar otak, karena dia memang tidak punya otak!

Martoyo warga Dukuh Banyuurip, Desa Banyuurip, Kecamatan Sambungmacan, Sragen (Jateng), rupanya juga termasuk lelaki yang tidak punya otak tadi. Ketika marah yang mengendalikan dirinya hanya perasaan semata, karena otaknya memang tidak jalan alias eror. Bagaimana mungkin, istri asyik telpon-telponan dengan lelaki, sudah divonis main selingkuh. Jadi orang mbok jangan terlalu vandorp (baca: kampungan).

Martoyo dengan Ngatini terhitung pengantin baru. Ibarat kendaraan, statusnya masih in reyen, platnya juga masih putih. Dengan demikian cinta anak muda itu pada bininya betul-betul selangit. Padahal biasanya saat sudah punya anak, langsung berobah. Saat pacaran kekasih kesandung, yang disalahkan pasti bata merahnya. Tapi setelah sekian lama berkeluarga, saat istri kesandung malah ngomel: matanya ditaruh mana?

Sebagaimana lazimnya manusia hidup di era gombalisasi, berkomunikasi jarak jauh menjadi demikian penting. Bukan via telepon kabel, tapi HP. Anak muda sekarang, woo…..kalau sudah SMS-an dan BBM-an, bisa lupa anak istri. Ny. Ngatini begitu juga rupanya. Jika sedang main HP, sama sekali tak bisa diganggu gugat, mirip keputusan juri lomba isi TTS.

Beberapa hari lalu, saat Martoyo pulang dari sawah, kedapatan istri asyik main telepon dengan cowok, karena pakai mas-mes segala. Tahu suami pulang, bukannya berhenti nelepon, eh….malah lanjuuuut! Padahal mustinya kan segera ambil minuman buat suami tercinta, lalu siapkan kue sumbu sebagai pengganjal perut. Maklum, orang pulang dari sawah itu laparnya luar biasa, mirip Kumbokarno. Kalau ada, nasi sebakul juga habis.

Kesal dengan sikap istrinya, Martoyo pun menghardik. “Kamu pacaran ya, sampai lupa suami. Itu selingkuh namanya.” Tapi Ngatini membantah, karena itu hanya teman lama biasa. Logikanya kalau selingkuh, pasti telepon dihentikan begitu lihat suami. Paling tidak menjauh.

Namun Martoyo sudah tak punya analisa logika sampai ke sana. Lihat asyik telepn sampai istri lupa kuwajiban, langsung divonis saja: selingkuh. Dia pun menjadi marah besar, karena rasa cemburu sudah kadung berkecamuk dalam benaknya. Ketika istri terus membantah tuduhan suami, Martoyo jadi kesal. Istri didorong ke tempat tidur dan dicekik serta merta. Karena jalur pernapasan hanya dari situ tanpa ada jalur alternatif sebagaimana kendaraan menjelang Lebaran, otomatis Ngatini kehabisan oksigin dan tewaslah di tempat.

Tahu bininya tewas, Martoyo hanya bisa menyesal. Dia tinggalkan surat minta maaf pada keluarga istri, dan kemudian ditinggal kabur. Polisi Sragen kini tengah memburu keberadaan Martoyo. Sebab sampai pemakaman Ngatini, lelaki pemarah itu masih ngumpet entah di mana berada.

Pulang Mar, nggak ada yang mau balas mencekikmu. (SP/Gunarso TS)    

  • Rengga Irawan

    makasih ceritanya mas Gun.