Sunday, 25 August 2019

Untuk SD Hingga SMA di DKI

19.842 Bangku Masih Kosong

Sabtu, 6 Juli 2013 — 10:39 WIB
ilus19

JAKARTA (Pos Kota) – Sebanyak 19.842 bangku kosong dibuka untuk siswa pada proses Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) tahap II jalur provinsi. Jumlah bangku kosong tersebut berasal dari siswa yang tidak melapor diri pada proses pendaftaran tahap I.

Belasan ribu bangku kosong tersebut tersebar di seluruh tingkatan sekolah. Dengan rincian Sekolah Dasar (SD) sebanyak 18.684 bangku, lalu Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 896 bangku, Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 175 bangku dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak 87 bangku.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Taufik Yudi Mulyanto, untuk mendaftarkan diri pada PPDB tahap II jalur provinsi, calon siswa harus menyertakan Kartu Keluarga (KK).

Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa calon siswa memang bermukim di wilayah DKI Jakarta. “PPDB tahap II ini diperuntukkan bagi siswa yang memang bermukim di Jakarta. Untuk tingkat SD pendaftaran dibuka mulai 6-10 Juli. Sedangkan untuk tingkat SMP dan SMA dibuka 8-10 Juli,” ujar Taufik, Jumat (5/7).

SISTEM ZONA

Untuk diketahui, mulai tahun ini Dinas Pendidikan menerapkan PPDB online dengan sistem dua zona sekolah. Yakni zona umum dan lokal. Untuk zona lokal tingkat SD Negeri berdasarkan kelurahan, tingkat SMPN berdasarkan zona kecamatan, tingkat SMAN berdasarkan rayon sekolah yang terdiri dari dua hingga 5 kecamatan.

Sedangkan dalam PPDB SMK Negeri tidak diterapkan sistem zona sekolah. Karena penyebaran SMK dengan program jurusannya tidak merata di semua wilayah. Misalnya, SMK 29 dengan program penerbangan hanya satu di DKI. SMK 36 dengan program kelautan juga hanya satu di Kota Jakarta.

“Program teknologi di SMK juga tidak merata di setiap wilayah. Jadi 63 SMK Negeri di Jakarta, PPDB online masih sama dengan tahun lalu, tidak dibagi dalam zona sekolah. Kalau SMA Negeri kan merata semuanya ada IPA, IPS dan bahasa,” ujarnya.

Adapun sistem zonasi ini diberlakukan salah satunya untuk mengurai kemacetan. Dengan begitu, peserta didik baru akan sekolah di lokasi yang berdekatan dengan tempat tinggal. Sehingga dapat mengurangi arus pergerakan kendaraan bermotor pribadi yang mengantar-jemput para peserta didik dari rumah ke sekolah dan sebaliknya. (guruh/o)