Thursday, 23 May 2019

Caleg PAN Laporkan Dugaan Pelanggaran Kode Etik Bawaslu

Selasa, 16 Juli 2013 — 21:36 WIB
Bawaslu

JAKARTA (Pos Kota) – Calon anggota legislatif (Caleg) Partai Amanat Nasional (PAN) dari daerah pemilihan Sumatera Barat I Selvyana Sofyan Hosen, melaporkan dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan ketua dan anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), hari ini,  Selasa (16/7/2013).

Atlit ke Bawaslu
Mantan atlet datangi DKPPU (rizal)

Selvyana didampingi sejumlah mantan atlet dan olimpian yang pernah mengharumkan nama bangsa. Mereka yang mendampingi diantaranya adalah olimpian atau mantan atlet tenis nasional Yayuk Basuki, olimpian tenis meja nasional Anton Suseno, olimpian renang nasional Lukman Neode, olimpian angkat besi Sebastian Hadi Wihardja, olimpian atletik Emma Tahapari dan olimpian hanggar Silvia Kristiani.

Didi Supriyanto, tim advokasi Pemilu PAN dan kuasa hukum calon anggota legislatif (caleg) Selviana Sofyan Hosen mengatakan, Bawaslu tidak berdasar mencoret Selviana dari Bacaleg DPR daerah pemilihan (dapil) Sumatera Barat I dengan nomor urut 3.

“Pencoretan Ibu Selviana akibat tidak bisa membuktikan lulus SMA. Itu kami laporkan, karena ibu ini sudah nyata-nyata lulus dan sudah dilengkapi dokumen lulus dari sekolah di Bern Swiss. Ijazah hilang, sudah diurus kedutaan dan dikuatkan saksi, dan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dinyatakan sudah lulus setara,” ujar Didi di DKPP, Jakarta, Selasa (16/7/2013).

Kasus  ini sebelumnya  sudah disidangkan dalam sengketa Pemilu di Bawaslu. PAN dapat meyakinkan KPU bahwa Selviana benar telah tamat pendidikan SMA sederajat, dengan bukti Surat Keterangan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Nomor: 3815/D.D1/KP/2013 bertanggal 18 Juni 2013.

SK tersebut menyatakan Selviana telah menyelesaikan pendidikan ‘Grade 12’ di Institute Le Manoir, Bern, Swiss pada 1969.

“Bukti tersebut sudah disertakan dalam pertimbangan Bawaslu, namu Bawaslu mengatakan Ibu Silviana tidak memenuhi syarat dan dicoret,” ungkap Didi.

Pencoretan dianggap PAN sebagai pelanggaran kode etik, dan meminta DKPP mengeksaminasi putusan Bawaslu.

Pihak teradu I adalah Ketua Bawaslu Muhammad, teradu II Nasrullah anggota Bawaslu, teradu III Endang Wihdatiningtyas anggota Bawaslu, teradu IV Daniel Zuchron anggota Bawaslu, teradu V Nelon Simanjuntak anggota Bawaslu, dan teradu VI Agung Bagus GB Indraatmaja pegawai Bawaslu. (rizal/d)