Saturday, 17 November 2018

Cegah Lonjakan Harga, Bulog DKI Gelar Operasi Pasar

Selasa, 16 Juli 2013 — 11:11 WIB
beras-bulog

JAKARTA (Pos Kota)-Guna   mencegah terjadinya lonjakan harga seperti yang terjadi pada daging sapi dan cabe Perum Bulog Divisi Regional DKI Jakarta  melakukan operasi pasar (OP) beras di 11 pasar tradisional wilayah IbuKota.

“Sebenarnya dalam tiga  bulan terakhir kenaikan harga beras masih relative wajar yakni rata-rata hanya 4 persen. Tetapi kalau tidak diantisipasi dan terjadi gejolak harga maka dampaknya akan lebih dahsyat dari kenaikan harga daging dan cabe,” kata Kepala Perum Bulog Divre DKI Jakarta dan Banten Achmad Ma’mun.

Operasi Pasar (OP) sendiri  telah dilakukan sejak 3 Juli 2013 tersebut dengan harga di grosir ditetapkan maksimal Rp7.100/kg dan harga di tingkat eceran maksimal Rp7.400/kg untuk jenis beras medium atau yang banyak dikonsumsi masyarakat.
Dengan operasi pasar  tersebut ternyata Bulog  berhasil menahan kenaikan harga, yakni harga sementara di tingkat grosir yang semula Rp7.600/kg menjadi Rp7.500/kg dan harga eceran dari Rp8.600/kg menjadi Rp8.400/kg. “Harga komoditas pangan, khususnya beras akan terus dipantau, dan operasi pasar akan terus dilaksanakan untuk menahan agar tidak terjadi lonjakan harga yang tinggi,” katanya.

Menurut dia, selama harga  belum stabil pihaknya akan terus menggelontorkan beras berapapun jumlahnya. Stok beras Bulog Divre DKI lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Saat ini stok beras yang ada jumlahnya sekitar  110.000 ton yang ada di Bulog DKI Jakarta dan Banten sehingga menjamin untuk pengamanan harga komoditas pangan tersebut. Jumlah itu cukup untuk persediaan 3 bulan  mengingat setiap hari beras yang dikeluarkan rata-rata hanya 3000 ton.

Selama ini operasi pasar dilakukan antara lain di 11 pasar tradisional antara lain  Pasar Klender, Pasar Minggu, Pasar Senen, Pasar Jatinegara, dan Pasar Palmerah serta Pasar Induk Beras Cipinang. OP dilakukan selama harga beras belum stabil.

(faisal/sir)