Friday, 21 September 2018

Dwi si Penjaja Ginjal Memaknai Hari Kemerdekaan

Sabtu, 17 Agustus 2013 — 14:24 WIB
wahyono1

MASIH ingat Dwi Wahyono, pria asal Purwakarta, Jawa Barat yang beberapa hari lalu menjajakan ginjalnya di Bundaran HI Jakarta untuk biaya sekolah anaknya. Dwi bicara soal makna Hari Kemerdekaan RI Sabtu (17/7).

Bagi bapak dua anak ini, merdeka memiliki makna terbebasnya rakyat bukan hanya dari penjajah, tetapi dari segala aspek sendi kehidupan seperti rakyat terlindungi dari tindak kriminalitas, pengobatan dan pendidikan gratis serta kesejahteraan tercukupi.

Diakui dia, hari kemerdekaan belum dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Dimana, rakyat kecil masih kesulitan menyekolahkan anak, sembako mahal, dan pelayanan kesehatan masih berlaku transaksional.

“Yang tak habis pikir, saat darah dijualbelikan kepada pasien membutuhkan darah. Saya sebagai pendonor darah selama 17 tahun, jujur saja kecewa dan sakit hati ini, saat tahu ternyata darah-darah yang didermakan pendonor dijualbelikan,”sesalnya.

Untuk itu, Dwi meminta Ketum PMI HM Jusuf Kalla mengevaluasi kinerja PMI hingga tataran daerah. Pasalnya, organisasi kemanusiaan tersebut terkesan tak lagi mengedepankan sisi kemanusiaan dengan menolong rakyat yang “sekarat” karena kekurangan darah.

“Bayangin untuk satu labu darah dijual Rp 350 ribu. Alasan penjualan darah ini, untuk membeli alat labu yang didatangkan dari luar negeri (import),” ungkapnya.

Namun apapun alasannya, sebut Dwi, penjualan darah kepada pasien yang benar-benar membutuhkan pertolongan, tak bisa dibenarkan. “Dimana letak PMI sebagai organisasi kemanusiaan bila darah pun ditransaksionalkan?,” katanya geram.

Yang harus diingat, bahwa penderma darah-darah yang tersimpan di kantong PMI mereka dengan tulus ikhlas mendonorkan darah untuk “menyambung hidup” pasien yang membutuhkan darah.

“Pendonor-pendonor itu layak disebut Pahlawan. Karena jasa mereka, ratusan bahkan jutaan nyawa manusia terselamatkan,” pungkasnya. (dadan)

Teks : Dwi, memperlihatkan seabreg sertifikat dari PMI Purwakarta atas keikutsertaan menjadi pendonor darah aktif selama 17 tahun.