Thursday, 23 May 2019

50 Warisan Budaya Dipatenkan

Rabu, 21 Agustus 2013 — 22:29 WIB
Tari Saman-n

SUKABUMI (Pos Kota) – Sedikitnya 50 karya budaya bukan benda akan ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI sebagai warisan budaya, tahun ini.

Penetapan budaya non benda ini untuk mengantisipasi pencatutan budaya oleh bangsa lain. Tujuan lainnya yakni untuk melestarikan budaya tersebut.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI, Kacung Marijan menyebutkan ada sekitar 2.600 warisan budaya bukan benda yang tersebar di seluruh wilayah.

Disebutkannya budaya bukan benda  seperti bahasa adat,  kesenian, kegiatan upacara dan lain-lain yang bisa saja berpindah atau dicatut bangsa lain disebabkan  alur komunikasi dan transportasi.

“Secarap perlahan kami menargetkan agar kebudayaan ini tidak diambil bangsa lain dan tidak punah di negeri sendiri maka untuk tahun ini ada 50 budaya bukan benda yang bisa ditetapkan sebagai warisan budaya Indonesia,” kata Kacung kepada wartawan di sela-sela  acara tradisi komunitas budaya se Jabar Banten di Kota Sukabumi, Rabu (21/8).

Disebutkan Kacung,  ada tiga tingkatan dalam penetapan budaya bukan benda ini sebagai warisan budaya Indonesia yakni tingkat nasional, provinsi dan kota/kabupaten. Ditargetkan paling lambat akhir tahun ini pemerintah sudah bisa menetapkannya.

“Kami sudah membentuk tim ahli dibidangnya mulai dari antroplog, pemerhati, pelaku kebudayaan dan lain-lain untuk melakukan penelitian ini. Nantinya  akan disidangkan serta dibahas apakah warisan budaya bukan benda tersebut layak ditetapkan sebagai warisan budaya Indonesia,” ungkapnya.

Di samping akan menetapkan budaya bukan benda sebagai warisan budaya Indonesia, lanjut Kacung, Kemendikbud juga akan menargetkan ada 35 benda cagar budaya yang akan ditetapkan sebagai benda warisan budaya Indonesia.

“Tim ahlinya sudah ada dan tengah meneliti penetapan benda cagar budaya sebagai warisan budaya Indonesia. Tujuannya untuk melestarikan dan mengantisipasi adanya kasus yang seperti di Trowulon, Mojokerto  yang adanya pembangunan pabrik baja di tengah-tengah lokasi tanah adat Majapahit,” tandasnya. (sule/d)