Monday, 24 September 2018

Dilema Perajin Tahu dan Tempe

Rabu, 28 Agustus 2013 — 7:26 WIB
temnangis288

BOGOR (Pos Kota) – Melonjaknya harga kedelai memaksa sebagian pengrajin tempe di Kota Bogor menimbun bahan baku kedelai. Hal ini dilakukan, agar mereka tetap bisa berproduksi. Sementara 50 dari 131 pengrajin tempe berhenti berproduksi.

Kasmono, 45, salah satu pengrajin tempe di RT 05/04, Kelurahan Kedung Badak, Kecamatan Tanah Seral, Kota
Bogor mengaku, bingung terkait makin melonjaknya harga dalam seminggu terakhir.Dilema yang ia alami ketika
permintaan tempe di pasaran sama namun harga bahan baku kedelai terus naik.

Kata Kasmono, pasca Lebaran harga yang semula Rp 7.300 per kilogram, terus naik hingga mencapai Rp 9.100 per kilogram, pada Selasa (27/08). “Saya bingung, karena permintaan tempe di pasar tetep sama, baik kualitas dan harganya, sedangkan harga kedelai terus naik,” kata dia.

Kelompok usaha tempe Kasmono sendiri terdiri dari lima anggota, mereka mendapat jatah lima ton dalam setiap minggunya dan masing-masing anggota mendapatkan jumlah berbeda dalam pengolahan tempe,sedangkan Kasmono mendapatkan jatah 1 ton kedelai dalam satu minggu. Namun seiring dengan makin naiknya harga kedelai, mereka mengusahakan 5 ton kedelai dapat diolah hingga 2 minggu.

“Pekan lalu kelompok kami membeli kedelai dengan harga Rp 8,300 per kilogram dan saat ini masih tersisa 1,5 ton kedelai. Saya takut bila kedelai diolah semuanya, otomatis kelompok kami akan membeli kedelai dengan harga sudah tinggi sedangkan harga tempe dipasaran tetap sama,” keluhnya.

Ia menjelaskan, untuk satu ton kedelai dapat diolah menjadi 4000 bungkus tempe dan menghasilkan Rp 12 juta jika harga jual Rp3 ribu/bungkusnya. Sedangkan untuk biaya produksi ketika harga kedelai naik ke Rp 8,300, Kasmono harus menyiapkan modal Rp8,3 juta/ 1 ton untuk bahan kedelai dan Rp1,5 juta untuk biaya pengolahan hingga pengemasan. “Keuntungan Rp2,2 juta. Ini belum dipotong upah 3 karyawan dan biaya listrik,”kata Kasmono.

Sementara, Ketua Primer Tahu dan Tempe Indonesia (Primkopti) Kota Bogor Muchtar Shatrie mengatakan, pasokan untuk Kota Bogor sendiri masih tersedia, namun harga saat ini sudah mencapai Rp9.100 per kilogramnya.
Harga ini diprediksi, akan ada 50 pengarajin yang dipastikan tidak berproduksi lagi, karena kendala modal.
“Harga normal Rp 7,300 per kilogram, dan kini sudah Rp 9,100 per kilogram. Dampaknya besar,”paparnya.

Pengrajin tempe yang tutup merupakan usaha kecil yang produksinya di bawah 3 ton dalam seminggu.
Diakui, kuota kedelai untuk Kota Bogor sebulannya mencapai 340 ton.”Saya tidak salahkan apabila pengrajin harus menimbun kedelai untuk meneruskan usaha mereka. Pengrajin juga berpikir nasib pekerjanya, jika usaha tidak produksi,”kata Muchtar.

Harga tempe di pasar kini sudah menyentuh Rp5 ribu dari semula Rp3 ribu.Hardi, 27, pedagang tempe di
Pasar Warung Jambu beralasan bahwa karena pasokan tempe langka sehingga ia menaikan harga jual. “Saya dikirim oleh pemasok tempe Rp 3000 per potong, dan saya jual Rp 5000 per potong karena menyesuaikan harga pedagang lain,”paparnya.

Dilema terus mendera perajin makanan rakyat itu. Harga dinaikkan tidak ada yang membeli, jika harga tetap rugi terus mengintai. Makanya tidak sedikit perajin tempe dan tahu akhirnya memilih berhenti produksi. Namun akibatnya pengangguran sementara akan bertambah. (yopi)

Teks : Perajin tempe di Bogor dilandak kebingungan dengan naiknya harga kedelai