Wednesday, 17 July 2019

Rp 300 Miliar Untuk Anas

Nazaruddin Bernyanyi Lagi

Kamis, 29 Agustus 2013 — 21:10 WIB
nyanyiannazar298

JAKARTA (Pos Kota) – Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin kembali bernanyi. Kali ini dia membeberkan sumber dana yang digunakan untuk pencalonan Anas Urbaningrum jadi Ketua Umum Partai Demokrat sekaligus calon presiden. Tidak itu saja. Nazaruddin juga menyebut lagi nama-nama anggota DPR yang mendapat fee anggaran.

“Biayanya hampir Rp300 miliar lebih, sumber anggaran adalah dari uang ‘fee’ proyek, proyek mana saja? Saya sampaikan salah satunya Hambalang,” ujar Nazar setelah menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (29/8).

Menurut Nazar, ada banyak orang yang menerima uang tersebut. Semuanya, jelas dia, diatur di Kementerian Pemuda dan Olahraga oleh mantan Sekretaris Kemenpora, Wafid Muharam. “Yang lain hanya menerima perintah dari Pak Wafid,” paparnya.

Dari kalangan DPR, kata dia, yang ikut terlibat ada beberapa orang. Termasuk Anas sebagai pengendali penuh, dan dirinya sebagai pelaksana.

“Di Komisi X DPR, pimpinan yang aktif mengendalikan yang selalu menyetujui presentasenya itu adalah Rully Chairul Azwar (anggota Komisi X fraksi Partai Golkar), Mahyudin (mantan Ketua Komisi X dari Fraksi Demokrat), dan Herry Akhmadi (Wakil Ketua Komisi X Fraksi PDIP),” paparnya.

Kemudian, di pimpinan koordinator anggaran, yang langsung komunikasi dengan Banggar (Badan Anggaran) adalah Angelina Sondakh (mantan anggota Komisi X dari fraksi Partai Demokrat), Wayan Koster (anggota Komisi X dari fraksi PDI-P), dan Kahar Muzakir (anggota Komisi X dari fraksi Partai Golkar).

“Untuk pimpinan Banggar-nya yang mengatur supaya anggaran itu turun ke program Hambalang ada Olly Dondokambey, dan Mirwan Amir,” lanjutnya.

Dalam pemeriksaan secara maraton itu, Nazar mengatakan, dirinya juga telah membeberkan tempat dan kapan transaksi itu berlangsung. “Saya jelaskan di DPR, di tempat lain. Kapan terimanya? Tanggal sekian. Terus ada yang terima di rumahnya, diantarkan orangnya, ada juga yang di beberapa tempat. Itu sudah saya jelaskan,” beber Nazar.

Nazar sebelumnya didatangkan dari Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin Bandung ke KPK. Sejak Minggu (25/8), terpidana suap wisma atlet itu sudah berada di KPK.

Namun, baru sejak Senin (26/8), penyidik KPK mencecarnya dengan berbagai kasus. Proyek lainnya adalah proyek KTP elektronik alias E-KTP di Kementerian Dalam Negeri di mana Anas disebut sebagai pengendali proyek itu bersama Setya Novanto. Nazar juga menyebutkan penerimaan fee proyek itu kepada Mendagri Gamawan Fauzi dan pimpinan Komisi II DPR.

Terkait pengungkapan Nazar, Wakil Ketua KPK, Busyro Muqoddas, mengatakan KPK akan mendalaminya. “Tentu akan kita konfirmasi, klarifikasi, dan validasi,” katanya, Kamis (29/8).

Khusus untuk penyidikan kasus dugaan penerimaan janji atau hadiah dalam proyek Hambalang dan proyek-proyek lainnya untuk tersangka Anas Urbaningrum, ia mengakui akan ada nama-nama yang memerlukan pengembangan. KPK, katanya, tidak akan membatasi pada peran-peran tertentu apalagi kalau ada bukti-bukti permulaan yang cukup.

Sementara, terhadap tersangka mantan Menpora, Andi Alfian Mallarangeng dan bekas pejabat PT Adhi Karya, Teuku Bagus M. Noor, Ketua KPK, Abraham Samad, memastikan akan segera melakukan penahanan.

“Memang dijadwalkan minggu ini ditahan kepada tersangka Hambalang. Kalaupun tidak sempat minggu ini ya paling lambat minggu depan,” kata Samad, Kamis (29/8). (yulian)

Nazaruddin

  • bawono

    Proyek Hambalang.
    Hambalang menurut orang Jawa= Ngantem, melempar. Ooooo…., pantes yang terlibat pada saling lempar kesalahan, tanggung jawab, dan sudah waktunya semua harus terungkap dengan jelas. Hambalang juga berarti siapapun yang terlibat di proyek itu akhirnya menjadi Hamba yang malang.
    Didunia di Penjara, diakhirat hiiiii….,

  • raharjo palaly

    Mereka (para terduga korupsi) pikir negara ini berada ditangan nya, sehingga “mengatur” duit ya sesuka jidatnya.