Friday, 18 August 2017

Minyak Goreng Curah Langka

Rabu, 4 September 2013 — 0:51 WIB
ilusminyak

PARA pedagang minyak goreng curah di beberapa pasar tradisional menuding pengusaha memanfaatkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat belakangan ini.
Mereka menyebut sejak mata uang dolar AS menguat tanpa turun harga minyak goreng curah ikut naik bahkan mulai langka di pasaran. Kelangkaan ini diduga akibat permainan pengusaha minyak goreng untuk mencari keuntungan yang lebih besar. Karena, dengan menahan barang, tentu harganya akan naik.

“Kami pedagang minyak goreng juga heran, kenapa harga minyak curah ikut-ikut naik. Padahal tidak ada hubungannya dengan nilai dolar. Semua bahan baku minyak berasal dari Indonesia dan tidak ada yang dibeli pakai dolar. Setelah bulan Raamadhan hampir setiap hari naik,” kata Yatno, pedagang Pasar Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur, kemarin.

NAIK TERUS

Secara logika bisnis, jelas Yatno, melemahnya rupiah tersebut memang berpengaruh terhadap produk impor maupun produk yang berbahan baku barang impor. Seperti, tahu, tempe, batik, maupun produk lainnya yang berbahan dasar impor.

Kenaikan harga minyak goreng curah:
• Sebelum bulan Ramadhan

Harga DO dari pabrik Rp8.500/Kg.

Harga jual ke agen Rp8.700/Kg

Harga jual ke sub agen Rp8.900/Kg

Harga eceran Rp9.500

• Setelah Idul Fitri
Harga DO dari pabrik Rp9.600/Kg

Harga ke agen dijual Rp9.800/Kg

Harga jual ke sub agen Rp10.100/Kg

Harga eceran Rp11 ribu/Kg.

“Kalau dipikir-pikir harga minyak goreng curah dengan yang kemasan sama. Masyarakat yang biasa membeli minyak curah pasti akan memilih yang kemasan. Minyak curah dengan yang di kemasan itu bedanya cuma proses penyaringan aja,” jelasnya.

CEPAT ATASI

Galingging, pedagang minyak goreng, yang tinggal Rawasari, Jakarta Pusat, mengaku belakangan ini di pasar setiap harinya hanya bisa menjual 5 drigen berukuran 20 liter. “Padahal sebelumnya sehari biasa menjual 7 sampai 9 drigen,” ucap pria asal Medan tersebut.
Pedagang minyak goreng curah berharap pemerintah dapat mengendalikan harga barang terutama untuk kebutuhan pokok akibat dolar AS menguat. ”Kalau nggak diatasi secepatnya bisa krisis kayak tahun 1998,” ucap Galingging.

Naiknya harga minyak goreng curah karena mulai langka, tentu mempengaruhi bisnis kelas Kaki-5, seperti dikeluhkan Ahmadi, pedagang ayam goreng.

Pria asal Bogor, Jawa Barat, yang berjualan di kawasan Matraman, Jakarta ini, mengatakan kenaikan ini sangat mempengaruhi pendapatannya setiap hari. Biasanya sehari bisa habis 25 Kg, kini hanya terjual 20 Kg. bahkan, ia terpaksa menaikkan harga jual per potong dari Rp5 ribu menjadi Rp5.500.

Upaya lain agar penghasilannya tak berkurang, Ahmadi mengaku terus terang terpaksa menyiasati sistem penjualan dari hari-hari sebelumnya. Terutama, penggunaan minyak goreng.
“Biasanya minyak goreng ini saya gunakan tiga sampai empat kali saja. Tapi karena harganya naik terpaksa kami pakai berulang-ulang. Bisa enam kali ngegoreng. Bahkan, terkadang malah sampai kering,” ucapnya.

RP1.000 PER POTONG

Asep, pedagang gorengan di wilayah Jatinegara, juga mengeluhkan kenaikan harga minyak goreng curah. Dia terpaksa menaikkan harga combro, bakwan, tempe, tahu, dan lainnya.
“Biasanya saya jual Rp2 ribu dapat tiga potong menjadi seribu rupiah per potongnya,” ucap lelaki asal Cirebon yang sudah lima tahun berjualan gorengan di Jakarta tersebut. (percoyok/ak)

Teks :Pedagang minyak di Pasar Penggilingan, Jakarta Timur. (percoyok)