Wednesday, 17 July 2019

Kasus Pembangkit Listrik

Dubes Iran Mengadu ke SBY

Senin, 9 September 2013 — 22:40 WIB
dusby99

JAKARTA (Pos Kota) – Duta Besar Iran HE Mahmoud Farazandeh segera menemui Presiden SBY guna menyampaikan keluhan terkait pengerjaan proyek LTE GT 2. 1 Belawan, Medan, Sumut, yang dipidanakan oleh Kejaksaan Agung.

“Beliau sangat prihatin, karena akan sangat menggangu hubungan baik kedua negara, khususnya aliran invetasi dari Iran ke Indonesia,” kata Wakil Ketua Kadin Indonesia Komite Iran Mohammad Bahalwan di Jakarta, Senin petang.

Apalagi, lanjut Bahalwan,kedua negara, yang diwakili oleh Ketua Kadin Indonesia Suryo Sulisto telah menandatangani MoU (perjanjian kesepahaman) dengan Kadin Iran, di Teheran, 25 Agustus 2013.

Tentang kunjungan ke Presiden, guna melaporkan peristiwa pemidanaan, ia mengaku secepatnya akan dilakukan. “Tadi, saya sudah bicara dengan HE Mahmoud Farazandeh dan Beliau setuju dan akan mempersiapkan waktunya.

Kapuspenkum Kejaksaan Agung Setia Untung Arimuladi uyang dihubungi terpisah, menyatakan pihaknya bekerja sesuai dengan ketentuan hukum berlaku, tapi bila mereka akan menemui Presiden SBY dipersilakan.

SIANG HARI

Dugaan ketidak profesionalisme jajaran penegak hukum, dalam menangani proyek LTE (Life Time Extension) GT (Gas Turbine) 2. 1, adalah dasar pemidanaan soal jumlah listrik yang dihasilkan oleh konsorsiusm, yakni PT Mappna Indonesia dan PT Nusantara Turnin dan Propolasi (anak perusahaan PT Dirgantara Indonesia) yang hanya 123 MW.
“Padahal, konsorsium menghasilan 145 MW dari target 132 MW atau kelibihan 13 MW yang bisa menghidupkan listrik untuk 15 ribu rumah tangga.”

PT Mappna Indonesia adalah kerjasama antara perusahaan listrik Iran (Mappna) dengan pengusaha Indonesia. Menurut Bahalwan, ukuran Kejagung itu bisa terjadi, karena jaksa penyelidik mendatangi lokasi proyek dan mencek pemakaian listrik pada siang dan tercatat 123 MW, bukan pada malam hari saat pemakaian listrik puncak.

Diduga pemidaan kasus GT 2. 1 guna mengalihkan kasus GT 1. 2 yang dikerjakan CV Sri Makmur dan telah ditingkatkan ke penyidikan dengan enam tersangka. Padahal, dalam perjanjian, jika ada kerusakan maka pemasok barang Siemens bertanggungjawab.
Dalam kasus GT 2.1 yang ditingkatkan ke penyidikan, Kamis (5/9) telah ditetapkan lima tersangka, dengan dugaan kerugian negara sekitar Rp25 miliar lebih. (ahi)

Presiden SBY