Tuesday, 20 August 2019

Importir Permainkan Harga Kedelai

Senin, 9 September 2013 — 18:55 WIB
Kedelai. (ist)

Kedelai. (ist)

JAKARTA (Pos Kota) – Perajin tahu-tempe di kawasan Semanan, Cengkareng, Jakarta Barat meminta Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menurunkan harga kedelai. Perajin itu juga meminta Bulog menangani kedelai, tidak seperti sekarang ini kedelai dikuasai importir swasta sehingga harganya tidakl stabil.

“Kami ingin harga kedelai turun, dan Bulog dilibatkan dalam penanganan kedelai, sehingga harga kedelai stabil dan kami dapat berproduksi. Hidup Perajin,”ujar Kuncoro, ketika berdialog dengan Gita Wirjawan yang mengunjungi sentra produksi tahu dan tempe di kawasan Semanan, Cengkareng, Jakarta Barat.

Ia mengungkapkan dengan terlibatkan pihak importir swasta dalam mendatangkan kedelai, harga bahan baku tahu dan tempe itu jadi rentan berfluktuasi. “Kami ingin Bulog diberi peranan besar dalam penanganan kedelai, sehingga harga dapat stabil,”ujar Koncoro lagi, sambil berteriak “Hidup Perajin”.

Perajin mengaku sekarang ini membeli kedelai dengan harga Rp 950 ribu per kwintal atau Rp 9.500/kg, padahal normalnya harga kedelai berkisar Rp7.500 per Kg. Inilah yang membuat mereka tidak mampu lagi untuk memproduksi tahu dan tempe.

Gita Wirjawan yang didampingi Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Srie Agustina, Dirjen Perdagangan Luar Negeri Bachrul Chairi, dan Sekjen Kemendag Gunaryo, menyalami para perajin kendati disambut dengan “meriah”.

Di hadapan perajin Gita berjanji akan mengeluarkan kebijakan harga kedelai khusus untuk perajin tahu-tempe. Kebijakan harga khusus ini hanya bersifat sementara saat terjadi lonjakan harga kedelai. “Malam ini atau besok kita akan tuntaskan mengenai harga kedelai ini, Dan akan ada khusus kedelai dari pengusaha kepada perajin,”jelas Mentri, yang juga berjanji akan melibatkan Bulog dalam impor kedelai.

Gita mengatakan, malam ini pihaknya akan memastikan distribusi harga itu ke tingkat perajin. Selain itu stok kedelai saat ini ada lebih dari 300.000 ton. “Jadi tidak ada alasan tidak bisa produksi,” katanya lagi. (bambang)