Saturday, 17 November 2018

Depok Juga Langka Tahu-Tempe

Selasa, 10 September 2013 — 7:06 WIB
goktem109

DEPOK (Pos Kota) – Tidak hanya di daerah-daerah lain yang melakukan aksi mogok produksi tempe dan tahu akibat tingginya bahan baku dasar kacang kedelai impor, namun di Depok juga ikutan berhenti.

Tingginya harga kebutuhan dasar pembuat tempe dan tahu, salah satu faktor pengusaha pembuat makanan dari kacang kedelai menghentikan usahanya. “Selama habis Lebaran, kenaikan kacang kedelai impor terjadi sampai tiga. Mulai dari Rp. 7900 hingga Rp. 9300 perkilogram,”ujar Firman,35, pegawai pembuat tempe dan tahu di Jalan Proklamas Lingkungan Cipayung RT 04/21, Sukmajaya Kota Depok.

Menurut bapak dua anak asal Pekalongan Jawa Tengah ini, jika harga kacang kedelai impor tidak segera diturunkan oleh pemerintah, imbasnya usaha pembuatan tempe dan tahu bangkrut.

“Untuk pembuatan tempe harus menggunakan kacang kedelai impor, tidak bisa diganti dengan kacang kedelai lokal. Karena kacang kedelai lokal hanya bisa menjadi pelengkap pembuat tahu, jika digunakan untuk tempe hasilnya tidak bagus,”ungkapnya.

Profesi pembuat tahu dan tempe selama 7 tahun dilakoninya tersebut untuk menyiasati supaya tidak rugi. Harga untuk tempe dan tahu terpaksa dinaikkan.

“Biasa untuk ukuran tempe perpotong dari Rp. 2000 naik menjadi Rp. 2500. Bagi ibu rumah tangga kenaikan harga masih dapat diterima, namun bagi pedagang sayur keliling mengeluhkan harga naik dan mengurungi niatnya untuk membeli tempe,”bebernya.

Mogok nasional pedagang tempe dan tahu seluruh indonesia dilakukan tiga hari sejak Senin.

Rina, 29, ibu rumah tangga mengeluhkan tidak ada pedagang yang menjual tempe dan tahu di pasar.”Sulit nyari tempe dan tahu. Jika ada harga tinggi, sehingga terpaksa mengganti makanan protein tersebut dengan makanan lain,”ujarnya. (Angga)

Teks: Tempat produksi tempe dan tahu menghentikan usahanya karena harga kacang kedelai tinggi. (Angga)