Jumat, 20 September 2013 11:34:11 WIB

Alkon KB Jangka Panjang Kurang Diminati

logo-kb

JAKARTA (Pos Kota)- Penggunaan alat kontrasepsi (alkon) jangka panjang seperti IUD, sterilisasi dan  implant kurang diminati peserta program keluarga berencana (KB). Dari hasil survey demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukkan bahwa alat kontrasepsi jangka panjang tersebut dari tahun ke tahun terus menurun penggunaannya.

“Tren yang terlihat pada hasil survey tersebut bahwa peserta KB lebih menyukai menggunakan metode suntik dan pil,” papar Wendy Hartanto, Plt. Deputi Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan BKKBN pada kegiatan temu media menyambut hari kontrspesi sedunia 2013.

Pada tahun l991 jelas Wendy, pengguna kontrasepsi IUD mencapai 13% dari total pemakai kontrasepsi. Tetapi angka tersebut terus menurun hingga  pada 1994 tercatat hanya 10% pemakai IUD, pada 1997 turun lagi menjadi 8%, dan pada 2002 jadi 6%, serta turun lagi jadi 5% pada 2007, dan pada data 2012, pemakai kontrasepsi IUD tinggal 4% saja.

Sedangkan pemakai alat kontrasepsi suntik malah sebaliknya, meningkat tajam. Pada 1991 penggunanya sebanyak 12%, tahun 1994 naik  menjadi 15%, dan pada 1997 angkanya meningkat jadi 28%. Dan pada 2002, 2007, serta 2012 berkisar pada 32% pengguna alkon KB suntik.

Menurut Wendy, pemakaian alat kontrasepsi jangka pendek akan berisiko gagal lebih besar ketimbang IUD yang berjangka panjang. Sebab, lanjutnya, akseptor bisa saja lupa melakukan suntik KB yang dilakukan setiap bulan sekali. Angka kegagalan metode suntik juga cukup tinggi mencapai 6/100. Artinya 6 dari 100  penggunanya hamil setelah menggunakan suntik.

Sementara untuk metode IUD, angka kegagalannya sangat rendah hanya 0,8 per 100. Selain itu alat kontrasepsi IUD juga bisa bertahan hingga 8 tahun.

Wendy menduga rendahnya minat pasangan usia subur menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang menjadi salah satu penyebab program KB mengalami stagnasi dalam 10 tahun terakhir ini. Data survey menunjukkan angka total fertility rate (TFR) pada 2012 menunjukkan angka 2,6 dari 1000 kelahiran per wanita.

“Tetapi diluar maslah tersebut, stagnasi program KB sebenarnya sangat kompleks penyebabnya. Semisal, untuk yang berada di pedesaan mereka ingin sekali memakainya namun berkendala dengan transportasi, pelayanan kesehatan ibu-anak dan KB lewat bidan yang belum menyentuh desa-desa,” lanjutnya.

Namun demikian, Litbang BKKBN sendiri tengah menyusun strategi bagaimana menurunkan TFR agar target pencapaian 2,1 pada 2015 bisa tercapai.
“Terdekat kami sudah merevisi Pepres 12 tahun 2012 agar pelayanan Kesehatan ibu dan anak serta KB ikut dalam BPJS per 1 Januari 2014 nanti, atau pelayanan KB sudah masuk ke dalam pelayanan kesehatan saat wanita datang ke bidan ataupun ke rumah sakit. Sehingga dari sana ada akselarasi penurunan di 10 provinsi di Indonesia,” tutupnya.

(inung/sir)

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.