Jumat, 4 Oktober 2013 22:33:18 WIB

Marak Dokter Asing Praktik di Indonesia

dokter

JAKARTA (Pos Kota) -  Marak dokter-dokter asing berpraktik di Indonesia. Mereka beroperasi di rumah sakit-rumah sakit di kota-kota besar secara ilegal dengan modus praktik sesuai perjanjian (panggilan) atau transfer teknologi.

“Para dokter asing keluar masuk rumah sakit. Dua minggu praktik, habis itu pulang ke negaranya, dan besoknya datang lagi untuk praktik yang sama,” jelas Ketua Umum PB IDI Zaenal Abidin.

Menurut Zaenal, praktik dokter asing secara ilegal ini sudah banyak terjadi dirumah sakit. Tetapi dokter lokal tidak berani melaporkan dengan berbagai alasan.

“Kasus di RSUD Tangerang adalah salah satunya yang dilaporkan oleh dokter kita,” jelas Zaenal.
Keberadaan dokter asing yang praktik di indonesia tersebut dikatakan Zaenal jelas melanggar aturan yakni Undang-Undang (UU) Praktik Kedokteran, UU Rumah Sakit hingga UU Kesehatan.

Karena itu upaya menertibkan praktik dokter asing tersebut Pengurus Besar IDI  membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penertiban Praktik Kedokteran Dokter Asing (SP2KDA).

Dikatakan Zaenal, keberadaan dokter asing ini sebenarnya fenomena gunung es. Mereka praktik secara diam-diam.

Hanya di RSUD kota Tangerang Selatan, kasus itu bisa mencuat karena ada dokter yang berani bicara.

Dr Zaenal menjelaskan, pada tahap awal pihaknya akan membuat rumusan pekerjaan yang akan dilakukan satgas hingga siapa saja anggotanya.

Dr Zaenal mengatakan, IDI tidak “alergi” terhadap dokter asing. Keberadaan mereka diperlukan untuk alih teknologi. Tetapi alih teknologi disini bukan praktik sendirian di rumah sakit, melainkan gelar pelatihan di rumah sakit pendidikan yang dihadiri banyak dokter. “Dengan demikian dokter kita bisa belajar teknologi kedokteran terkini,” katanya.

Sementara itu terkait kasus pemecatan dokter di RSDU Tangerang Selatan,  dr Hendrarto Ketua IDI Tangerang menuturkan, 23 dokter dan tenaga medis yang diberi surat peringatan (SP) 1 dan 2 masih datang ke rumah sakit, namun mereka tidak melakukan praktik. Sehingga pelayanan tidak optimal.

“Karena pelayanan yang ada ditangani oleh dokter umum sekitar 11 orang. Para dokter spesialisnya masih datang ke rumah sakit, tetapi tidak praktik. Mereka mau bekerja kembali kalau kasusnya sudah beres,” kata dr Hendrarto.

Sedangkan nasib 5 dokter (3 spesialis yaitu bedah umum, orthopedi dan mata serta 2 dokter umum), Hendrarto masih “dirumahkan”. Mereka mengaku enggan kembali ke RSUD kota Tangsel karena merasa tak nyaman lagi dengan lingkungan kerja disana.

“Untuk 5 dokter yang dipecat, sedang dicarikan upaya hukumnya. Nanti terserah mereka apakah mau kembali ke rumah sakit asal atau pindah ke tempat lain,” katanya.

Soal permintaan Menkes agar Direktur RSUD kota Tangsel agar dipecat karena tak berlatarbelakang pendidikan kedokteran, dr Hendrarto mengatakan, pihaknya belum mendapat informasi resmi terkait dengan hal.

Belum lama ini 23 dokter RSUD Kota Tangsel melakukan aksi unjuk rasa terkait dengan keberadaan dokter asing dari Malaysia yang praktik di rumah sakit tersebut. Buntut dari protes itu, lima dokter tenaga kerja kontrak dipecat dari RSUD Kota Tangsel seusai aksi menolak keberadaan dokter asing. (Inung/d)

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.