Friday, 16 November 2018

Harga Pakan Melejit, Peternak Ayam di Jatim Resah

Sabtu, 12 Oktober 2013 — 10:56 WIB
peternak-ayam-1

SURABAYA(Pos Kota)- Peternak ayam petelur di Jombang Jawa Timur sedang resah. Hal itu dipicu oleh kenaikan harga pakan. Selain itu, harga jual telur tersebut juga sangat rendah.

Bambang Suirman,45, salah satu peternak ayam penghasil telur, asal Desa Pacar Peluk, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang mengatakan, sejak nilai mata uang dolar AS naik beberapa bulan lalu, sejumlah peternak mulai kelimpungan.

Pasalnya, harga telur di pasaran tak kunjung naik, sementara harga pakan ternak terus melonjak. Dengan harga telur Rp13.500 perkilogram, peternak hanya mampu mengembalikan modal usaha peternakan ayam petelur.

Untuk mendapatkan keuntungan, para peternak harus menjual telur ke pasar dengan harga diatas Rp14.000 perkilogram. “Kalau kurang dari harga Rp 14 ribu hasilnya hanya impas modal, bisa bisa malah rugi,” ujarnya, Sabtu (12/10).

Dengan kondisi seperti itu, Bambang mengaku hanya berusaha bertahan sembari menunggu turunnya harga pakan atau meningkatnya daya beli masyarakat. Dia berharap, pemerintah turun tangan atas kondisi yang sedang dialami para peternak ayam petelur. “Harapan kami pemerintah tidak tinggal diam, bagaimanapun ini salah satu roda perekonomian yang harus diselamatkan,” katanya.

Hal senada juga dilontarkan Kaulani, peternak ayam petelur asal Dusun Bendung Rejo, Desa/Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang. Ia mengungkapkan, sejak 3 bulan ini pendapatan dari beternak ayam petelur terus menipis. Dengan 300 ekor ayam petelur, setiap hari dia hanya mampu melayani konsumen dengan dengan jumlah maksimal 15 kilogram telur.

Agar mendapatkan sisa lebih dari usaha beternak ayam petelur, Kaulani menjelaskan jika harga minimal yang dia patok untuk setiap kilogramnya adalah Rp14.000.  “Jika di bawah harga itu tidak dapat apa-apa, bisa – bisa malah tekor,” jelas dia.

Untuk menekan biaya produksi karena naiknya harga pakan, Kaulani mengaku pernah mencoba mengganti pakan dengan jenis pakan lain yang harganya lebih murah. Namun, upayanya agar keuntungan tetap bisa diperoleh malah berujung kerugian. “Ketika diganti pakan malah hancur-hancuran. Akhirnya kembali ke pakan asalnya yang harganya terus naik,” katanya. (nurqomar/yo)