Ada Penurunan Permukaan Tanah di Wilayah Jakarta Utara

Senin, 21 Oktober 2013 — 18:58 WIB
Waduk Pluit-toga01n

BOGOR (Pos Kota) – Penggunaan air bawah tanah harus diawasi secara ketat oleh pemerintah daerah melalui Peraturan Daerah (Perda).  Berdasarkan data, dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, telah terjadi penurunan permukaan tanah terutama di wilayah Jakarta Utara.

Waduk Pluit-toga03n

Mengeduk waduk Pluit di Jakarta Utara. foto: toga.

“Sudah ada penurunan permukaan tanah di Jakarta setinggi 5 hingga 10 Cm. Diduga, hal serupa akan terjadi lagi dalam kurun lima tahun mendatang,”kata Muhrizal Syarwani, usai menghadiri acara Konferensi Internasional Pertanahan untuk pangan dan energi, di IICC Bogor Senin (21/10).

Dr Muhrizal Syarwani M.Sc yang juga Kepala Balai Besar, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Pertanian Bogor pada Kementrian Pertanian mengingkatkan warga dan Pemerintah Jakarta untuk mengawasi dan memperketat peraturan pemerintah daerah (Perda) tentang penggunaan Air Bawah Tanah (ABT) di wilayah Jakarta.

Ditambahkan, satu tanda adanya penurunan tanah yakni sering terjadi banjir ROB, walau hujan sebentar. “Ini salah satu dampak dari penggunaan air bawah tanah yang berlebihan, khususnya perusahaan dan perkantoran di Jakarta,”paparnya.

Mendeteksi  pembatasan pemakian air bawah tanah bisa dilakukan Pemprov DKI Jakarta yakni dengan melalui Perda serta memperketat penggunaan ABT setiap gedung dan perusahaan.

“Beri himbauan ke perusahaan dan perkantoran, menampung air hujan dan mengembalikan (membuang) kembali air ke tanah, merupakan satu solusi selain lubang biopori untuk penyerapan air hujan,”ungkapnya.

Pembuatan waduk diwilayah penyangga Jakarta seperti Bogor, adalah solusi terbaik. “Untuk waduk, rekomendasi kami, agar pembangunannya tidak seperti sistem waduk Jatiluhur. Buat waduk seperti DAM. Ini solusi dalam menjaga warga sekitar, jika waduk ada masalah,”paparnya.

Ketua Panitia Konferensi Internasional Pertanahan Budi Mulyono, mengatakan kegiatan tersebut diikuti oleh puluhan ahli tanah di 11 negara Asia Tenggara dan Asia Timur.

“Ada juga peserta dari, Australia, Kanada dan Amerika Serikat. Peserta yang merupakan ahli tanah, memberi respon positif,”ujarnya.

Ia mengakui, banyak negara salah memahami persoalan  emisi gas rumah kaca, pemanasan global, dan kelangkaan pangan dan energy di lahan gambut di Indonesia.

“Kita dituding sebagai penghasil nitrogen karena dampak dari lahan gambut,”kata Budi. (yopi/d)

Terbaru
Terpopuler
Minggu, 28 Juni 2015 — 10:42 WIB
Bola
Minggu, 28 Juni 2015 — 10:40 WIB
Bola
Minggu, 28 Juni 2015 — 10:34 WIB
Jakarta
Minggu, 28 Juni 2015 — 10:27 WIB
Bola
Minggu, 28 Juni 2015 — 10:18 WIB
Jakarta
Minggu, 28 Juni 2015 — 10:11 WIB
Sosbud
Minggu, 28 Juni 2015 — 10:04 WIB
Bola
Minggu, 28 Juni 2015 — 9:56 WIB
Belum Lulus Sudah Dipesan Perusahaan
Siswa SMKN 8 Jakarta Panen Orderan Kerja
Jakarta
Minggu, 28 Juni 2015 — 9:51 WIB
Musik
Minggu, 28 Juni 2015 — 9:47 WIB
Peristiwa