Saturday, 22 September 2018

Undangan ke Rumah Ditolak Bekas Istri Digasak

Selasa, 22 Oktober 2013 — 10:21 WIB
21-dia

SUDAH bukan suami istri, tapi Markun, 28, dan Isti, 25, masih juga ribut. Gara-gara soal anak dijadikan dalih agar bekas istri mau main ke rumah, Ny. Isti pun jadi marah. Tapi kemarahan itu justru dijawab Markun dengan serangan tinju dan lemparan bata, keruan saja ibu dua anak itu KO dan melapor ke Polsek Muncar (Banyuwangi).

Ketika perceraian harus terjadi, yang jadi korban bukan saja anak-anak, tapi juga “Si Jendul” milik eks suami. Buktinya, di banyak kejadian bekas suami masih ngglibet pengin ketemu istri hanya sekedar untuk berbuat sebagaimana layaknya suami istri. Padahal dengan status talak 1 maupun 3, hal itu tak boleh dilakukan lagi. Bila dipaksakan juga, itu sama saja perbuatan zina atau ji-na karena ijinnya ora ana (tidak ada).

Markun adalah salah satu lelaki yang jadi ”korban” akibat hancurnya sebuah rumahtangga. Sebetulnya dia tak menginginkan terjadinya perceraian itu. Tapi gara-gara kemiskinan yang terus melilit, Isti sebagai istri memilih pecah kongsi, membatalkan koalisi permanen yang pernah dibangun 5 tahun lalu. Anehnya, anak-anak yang biasanya dipertahankan oleh bekas istri, justru kini keduanya dibebankan pada Markun.

Lelaki nelayan dari Tambakrejo Kecamatan Muncar ini memang kelewatan. Hasil melaut hanya pas-pasan tapi hobinya judi mabok-mabokan tak juga hilang. Keruan saja Istri sebagai istri tidak tahan, sebab tak ada ceritanya pemabok dan penjudi bisa kaya. Karena segala nasihatnya tak digubris, ya sudahlah…..cerai saja. Lewat Pengadilan Agama Banyuwangi, kebebasan itu diperolehnya. Dan makin bebas lagi, karena hak asuh dua anak jatuh pada sang pemabok. Biar tambah mabok, gara-gara ngurus anak.

Sial betul nasib Markun. Ngurus dua anak saja repot, tapi ”Si Jendul” miliknya juga sudah beberapa bulan terlantar gara-gara perceraian itu. Mau cepat-cepat nikah lagi, tak ada biaya. Makanya kadang Markun iri sama politisi. Karena duit banyak lewat politik daging sapi, ada yang koleksi bini sampai 2-3-4, sedangkan dia yang nelayan miskin, mau ganti istri yang minta cerai saja susahnya bukan main.

Sebagai pelarian susahnya hidup, kembali Markun suka mabuk-mabukan. Beberapa hari lalu saat dia minum tuak di pinggir pantai, bekas istri dilihatnya sedang mau beli nasi goreng, tapi kehabisan. Dia segera mendekati dan ditunjukkan di mana warung nasi goreng yang masih ada. Sambil berjalan menuju warung dia merayu-rayu Isti agar mau main ke rumah, karena anak-anak kangen. Padahal sebetulnya, yang paling kangen Markun sendiri, terutama ”Si Jendul”.

Ternyata jawaban Isti sangat menyakitkan, ”Tapi kan anakmu juga, kan?” Nah, jawaban itu menjadikan Markun naik pitam. Tanpa ba bi bu lagi, Isti langsung digasak (dipukul) hingga terjatuh. Tambah sadis lagi, potongan bata merah pun diambil dan dilempar ke wajah Isti, pletakkkk! Untung saja banyak yang melihat adegan itu, sehingga keduanya segera dilerai. Dalam kondisi wajah simpang siur, Isti pun mengadu ke Polsek Muncar dengan mengusung pasal KDRT.

Sadis, gagal menggoyang malah main tendang. (JPNN/Gunarso TS)

  • rengga.irawan.779

    mas gun…mas gun…..nggilani…hahaha