Monday, 22 October 2018

Bank Mandiri Syariah Dibobol Bank dari Dalam

Rabu, 23 Oktober 2013 — 22:44 WIB
Bank Syariah Mandiri

BOGOR (Pos Kota) – Kasus pembobolan Bank Syariah Mandiri Bogor senilai Rp102 miliar yang ditangani Mabes Polri. Pihak BSM menyerahkan sepenuhnya kasus penyaluran kredit fiktif BSM Cabang Utama Bogor itu kepada Bareskrim Mabes Polri.

Melalui Taufik Machrus, Sekretaris Perusahaan Bank Syariah Mandiri dikatakan, pihaknya menyatakan  siap memberikan keterangan yang diperlukan sesuai keperluan penyidik. “Besok pun kami siap,” ujar Taufik kepada wartawan Rabu (23/10) malam.

Menurut Taufik, kasus pemberian kredit fiktif ini terungkap, setelah pelaporan kantor pusat BMS.
Pimpinan BSM  menemukan kejanggalan dalam kredit macet di BSM Cabang Utama Bogor.

“Berbekal kejanggalan ini, tim melakukan penelusuran. Ditemukan ada yang tidak beres dengan data  nasabah yang menerima fasilitas ini,”katanya.

Data yang didapat, ada  pemberian kredit bagi 197 nasabah. Namun dalam pengecekan, 113 nasabah penerima adalah fiktif alias bodong.

Dari 197 nasabah ini, telah terjadi kucuran uang senilai Rp102 miliar dengan potensi kerugian atas kredit fiktif ini mencapai Rp59 miliar.

Temuan ini, oleh kantor pusat BSM, lalu diadukan ke Mabes Polri. Dalam penyilidikan polisi, ditemukan ada kejahatan perbankan.

Mabes Polri lalu menetapkan empat pimpinan sebagai tersangka. Mereka adalah M Agustinus Masrie, Kepala BSM Cabang Utama Bogor, Chaerulli Hermawan, Kepala BSM Cabang Pembantu Bogor, dan John Lopulisa, Accounting Officer BSM Bogor serta  Iyan Permana, debitur pengembang.

Keempat tersangka memiliki peran tersendiri. Untuk Debitur pengembang berperan sebagai koordinator pengumpul nasabah fiktif.

Nasabah fiktif ini  mengajuan kredit perumahan yang datanya dibuat sedemikian rupa muilai dari letak serta nasabahnya.

Oleh debitur pengembang, lalu diajukan kepada BSM dengan plafon kredit bernilai Rp100 -200 juta.

“Untuk pinjaman perumahan, debitur pengembang memberi waktu mulai dari bulan Juli 2011 hingga Mei 2012,”paparnya.

Bersama empat pelaku, polisi juga menyita sepuluh kendaraan sebagai barang bukti.

Ada mobil Mercedes-Benz E300 putih B 741 NDH, Mercedes-Benz SLK 300 kuning dua pintu bernopol B 1 ADG, Toyota Alphard Vellfire putih dengan Nopol B 1650 RL.

Ada juga Jeep Hummer H3 hitam Nopol B 741 FKD, Honda Jazz putih dengan Nopol F 39 A, Honda CRV hitam Nopol F 1288 L, Honda Freed putih Nopol F 639 CW, Toyota Fortuner putih dengan nomor polisi F 1030 DO, Toyota Altis hitam Nopol F 1649 DK, dan sepeda motor Honda Goldwing Nopol  F 6 B. (yopi/d)

  • ismail bin ujang

    Dikira Bank Syariah itu aman,ternyata ada malingnya juga.Pasti hukumannya pakai Syariat Islam bisa dipancung atau digantung di depan Mesjid.

    • agung

      Klo maling ya harus dipotong tangannya termasuk “akil modar”. Biar”kapok” !!!.he ..he..

  • ucuk

    haha…siapa yang kira MK juga bisa jadi maling?Bentengnya aja maling apalagi bawahannya..dah biasa maling di Indonesia mah. Kalau Indonesia ga ada yang maling itu baru aneh haha

    • agung

      Sarjana hukum titelnya tapi profesinya “MALING”! mungkin udh bawaan dari moyangnya ..ha ha ha

  • agung

    Buat kalian para karywn/ti bank atau bumn lainnya.. uang yg kalian pegang milik negara, jadi “JANGAN kamu pake SeEnak pusarmU”! Emangnya uangnya mBahmu??!