Wednesday, 22 May 2019

Curahan Hati Petugas Pengendali Pesawat Pembunuh Tanpa Awak

Sabtu, 26 Oktober 2013 — 7:18 WIB
drone2610

“AKU menyaksikannya saat-saat dia mati. Butuh waktu yang lama.. . ” demikian kata dari mantan operator pesawat militer tak berawak, Drone,  saat menyampaikan curahan hati, memaparkan aksi yang pernah dilakukannya di Afghanistan .

Drone-warrior-gq-magazine-november-2013-01

Brandon Bryant, operator  Drone,  yang dihantui frustrasi dan trauma. -foto; GQ

Mantan pengendali pesawat tanpa awak di Angkatan Udara AS itu mengungkapkannya kepada majalah GQ,  bagaimana ia dihantui oleh kengerian membunuh orang, sementara – dari ribuan kilometer jauhnya –  dia duduk dengan di bunker aman di Ruang Komando AS di Nevada.

Airman First Class Brandon Bryant, yang berbicara dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya operasi Drone, menggambarkan serangkaian insiden yang meresahkan – termasuk saat dia diberitahu – untuk menutupi ketakutannya – bahwa seorang anak telah terbunuh oleh Drone, dalam pemeriksaan intelejen, menyebut tubuh yang kabur itu seekor anjing.

Dia bercerita tentang satu insiden secara rinci – awal ketika ia mengambil alih kontrol sistem senjata yang MQ – 1B Drone Predator  itu ketika mengelilingi wilayah tenang di atas pedesaan Afghanistan .

Drone Operator Room

Ruang operator Drone di gurun Nevada, AS. Seorang pilot mengendalikan pesawat yang tak berawak, dan seorang lagi mengendalikan peluncuran rudalnya.  – Reuters.

Bryant sendiri duduk di kursi empuk di ruang  gelap di gurun di wilayah Nevada, hanya diterangi oleh monitor layar besar. Di sampingnya duduk pilot pesawat tak berawak itu .

Bryant melacak tiga orang berjalan menyusuri jalur tanah yang berdebu .

Dia menginstruksikan kamera untuk memperbesar mereka dalam upaya untuk memilih rincian para tersangka. Dia diberitahu mereka membawa senapan, tapi dari ketinggian itu ia tidak bisa memastikan senjata, karena ada persamaannya – dan bisa saja, tongkat para gembala .

Kemudian terdengar suara instriksi nyaring, perintah di headset-nya : ” Fire ! (Tembak)… ”

Modus IR : Check .

Laser designator : Periksa .

Countdown : “Tiga … dua … satu ..  Rudal meluncur ! ”

Rudah Hellfire  seharga 95.000 dollar melesat dari bawah pesawat Predator tak berawak, dengan kecepatan supersonik dalam hitungan detik karena jatuh menuju target yang dicuriganya .

Drones

Cepat, bersih , akurat : Ini mitos Hollywood ikhwal efektivitas serangan Drone yang pada kenyataannya tidak terjamin. Ungkap  mantan operator yang tidak puas .

Operator mengawasi orang-orang berjalan, tidak menyadari adanya maut yang mengintainya.  Kamera IR  menyala seiring peluncuran rudal . Lalu Terang. Dan hening sesaat.

“Setelah asap membersihkan debu, dan ada potongan tubuh tampak dari dua orang di sekitar genangan darah, ” kata Bryant kepada majalah GQ .

“Dan ada masih seorang pria yang hidup di sana, yang hilang kaki kanannya, di atas lututnya. Dia memegangnya , dan dia berguling-guling. Darah menyembur dari kakinya, di tanah gurun Afganistan yang panas.

Lalu darah membentuk genangan yang menutupi bagian tubuhnya yang terputus. Butuh waktu lama baginya untuk mati . “Saya hanya melihat dia. Saya melihat dia menjadi warna genangan darah yang menjadi tempat pembaringannya  . . . .”

Bryant berbicara dalam upaya untuk meningkatkan kesadaran agar pembunuhan drone operator seperti dirinya diakhiri.

Dia berhara orang-orang seperti Edward Snowden, yang membocorkan rahasia pemerintah AS,  menjadi pahlawan untuk prinsip-prinsip seperti dirinya. Tapi Bryant sendiri tidak akan membahas rincian pekerjaan yang diklasifikasikan “rahasia ” .

Kesaksian Bryant telah menambahkan bahan bakar ke api kontroversi cara berperang yang ditempuh oleh Amerika di Timur Tengah. Khususnya di Pakistan dan Afganistan.

Pemerintah Amerika berargumentasi, bahwa operasi pesawat tanpa awak dimaksudkan untuk membunuh para pemimpin teror –  jauh di dalam wilayah udara negara yang tak menyadari kehadiran mereka –  sebagai hal yang sah di bawah hukum internasional .

Namun Amnesty International awal pekan ini menegaskan tindakan tersebut sebagai “kejahatan perang ” .

Pemerintah AS menegaskan, semua operasi Drone di atas wilayah udara Pakistan,  Yaman, Afghanistan  dioperatori oleh tenaga berpengalaman dan dimaksudkan untuk menemukan dan membunuh orang-orang yang menjadi ancaman bagi keamanan.

AS telah melakukan hampir 400 serangan pesawat tak berawak di daerah suku bergolak Pakistan di sepanjang perbatasan Afghanistan sejak 2004 , membunuh antara 2.500 dan 3.600 orang , menurut laporan Biro Jurnalisme Investigatif berbasis di London.

Bahkan dalam bunker  yang mengendalikan Drone tersebut, Bryant merasakan dampak dari perang berkecamuk ribuan kilometer jauhnya. Ada pertentangan batin. (Atau menurut istilah Vicki ada “kontroversi hati”).

Di Irak, ia pernah ditugaskan mengikuti seorang komandan pemberontak melaluinya mata elektronik di  langit .
Tersangka menepi dan menyeret dua gadis keluar dari mobilnya .

“Mereka terikat dan tersumbat, ” kata Bryant . “Dia memerihtahkan mereka berlutut, mengeksekusi mereka di tengah jalan, dan meninggalkan mereka di sana . Orang-orang hanya menonton dan tidak melakukan apa-apa. ” Juga Bryant. Yang hanya mengawasi dari jauh. Ribuan kilometer jauhnya.

Sebagai kontroler Drone banyak tugas-tugas ia rasakan sangat penting, seperti mendukung pasukan di lapangan. Dia setuju, operasi semacam itu memang kadang diperlukan .

“Mereka mulai menunjukkan kepada kita presentasi PowerPoint tentang siapa orang-orang yang menjadi target operasi,” kata dia . “Mengapa kita harus kejar dia, dan apa (kejahatan) yang telah dia lakukan. Aku suka itu. Aku senang bisa tahu apa-apa seperti itu, ” paparnya.

Meski demikian, ada juga insiden yang membuatnya meragukan efektifitas pembunuh robot bersayap yang dikendalikannya.

Dia mengungkapkan satu kejadian : ” Rudal meluncur.. ( kemudian ) angka digital monitor itu berjalan . Di luar , menuju depan bangunan. Dan itu tampak seperti anak kecil bagi saya  . . . ”

Namun dalam keterangan resminya intelejen melaporkan korbannya sebagai anjing .

Bryant bukanlah manusia yang yang tidak punya hati nurani. Setiap kali pembunuhan jarak jauh berlangsung, dia hanya bisa duduk diam dalam ribuan killometres,  menyaksikan adegan kehancuran dan kematian dimulai .

Kini,  setelah melakukan banyak operasi itu, dia didiagnosis mengalami “gangguan stres pasca trauma “. Konon, itu adalah penderitaan umum yang dialami para mantan operator pesawat tak berawak Drons.

Dalam perkembangannya, Angkatan Udara AS tidak lagi mudah mendapatkan cukup relawan untuk operasi seperti ini.

“Drone itu kotor. Dan membosankan!” menjadi ungkapan yang mengisi pikiran para pengendali di ruang kontrol saat mendekati akhir tugasnya.

Dibandingkan dengan para  awak/pilot pesawat tempur, yang merasakan sensasi di atas udara saat melihat hasil serangan di bawah. Untuk operator senjata Drone, rasa ketakutannya adalah rasa lelah setelah detik-detik jam berdetak pada belakang monitor yang berkedip-kedip – dan lalu memahami apa yang tengah terjadi di sebuah tempat di belahan dunia lain.

Dan mereka tahu apa yang mereka lakukan adalah hal yang kontroversial . Menimbulkan kecamuk pikiran.

Apa pun, para pejabat AS tetap menolak setiap dan semua kritik terhadap program drone

“Jika tidak menyerang para “teroris” dengan cara ini ,” kata mereka,  “Maka akan sama saja dengan mengundang lebih banyak serangan di daratan Amerika Serikat. “ . (GQ/dms)

  • jantur

    tinggal tanggung jawab di akhirat
    na’udzubillah.

  • Fisa Fisabilillah

    Orang2 kafir, kl sampai akhir hayatnya tdk beriman kpd Allah, t4nya tt di neraka. Semuanya Insya Allah… para pengendali dan smua yg terlibat sama saja

  • edwin

    allah maha kuasa segala gala nya emang amerika sanya akui kemajuan nya tehnologi nya tapi kita sehat kan yang kuwasa yang meyehat kan bukan begitu cara nya membunuh manusia pasti ada timpal balik nya