Wednesday, 22 May 2019

Kisah Majelis Atheis yang Makin Laris

Minggu, 10 November 2013 — 2:16 WIB
Sanderson Jones-n

LONDON –  Majelis keagamaan dikenal di kalangan umat Kristen maupun Islam, dan pada lazimnya jamaah majelis berkumpul untuk kegiatan ibadah dan pengajian.

Tapi di Inggris Utara telah berdiri Majelis Minggu untuk Atheis.

Sunday Assembly-330

Suasana ‘Sunday Assembly’ di majelis Atheis

Jama’ah majelis yang berkumpul setiap Minggu – Sunday Assembly, namanya –  menghadirkan jemaah untuk merayakan apa yang disebut sebagai “kehidupan tanpa Tuhan mana pun”.

Nuansa gereja nampak dalam setiap kegiatan majelis itu. Bedanya, tak ada Al Kitab, patung  atau gambar Jesus Christus dalam kaca yang terpatri di dinding. Atau simbol-simbol Kristiani lainnya.

Sanderson-Jones-Pippa-Evans

Pasangan Sanderson Jones dan Pippa Evans, pencetus Majelis Minggu untuk Atheis

Majelis Minggu sudah lebih dikenal sebagai  ‘gereja’ bagi atheis, tapi kita lebih senang menyebutnya  sebagai bagian terbaik dari gereja tapi tanpa agama dan lagu-lagu rohani,” kata komedian Inggris Sanderson Jones, pendiri Majelis Minggu.

“Moto kami adalah ‘Hidup lebih baik, sering menolong dan lebih sering memukau’, “ katanya. “Dan misi kami menolong setiap orang untuk hidup yang hanya sekali ini dengan sebaik mungkin,” tambahnya.

Sunday-Assembley-03

Pertemuan Majelis Minggu meliputi nyanyi bersama, refleksi dan berbicara dengan topik-topik  bertema sekuler.

MAKIN LARIS

Dalam waktu singkat majelis ini telah berkembang ke lebih dari 20 kota di seluruh Inggris dan dunia, termasuk New York dan Sydney.

Pengelola Majelis Minggu kini tengah menggelar tur keliling dunia, dan berusaha membangun jaringan di Amerika, Inggris, Eropa dan Australia.

Kota Melbourne sejauh ini sudah 5 kali menggelar Majelis Minggu. Pertemuan berikutnya akan digelar di Perth, Adelaide, Sydney, Brisbane dan Canberra.

Pihak penyelenggara Majelis Minggu di Melbourne, Kathryn Murray mengatakan karena ini majelis bagi orang yang tidak percaya tuhan, maka majelis yang mereka gelar tidak memiliki doktrin atau ajaran tertentu.

”Kami mengambil referensi dari semua hal di dunia, mulai dari seni, alam, apa saja yang dapat kami ambil.’ Katanya.

Pelayanan yang diberikan didalam majelis ini antara lain, perbincangan yang inspiratif, bacaan dan bernyanyi bersama dan selalu diakhiri dengan minum teh dan sajian makanan ringan.

TIDAK ANTI AGAMA

Murray mengatakan setiap majelis yang mereka gelar dihadiri sekitar 100-an orang. dan jumlah pengunjung terus bertambah. Oleh karena itu penyelenggara Majelis Minggu menganggap pertemuan bagi para pemeluk atheis ini perlu digelar.

“Terutama di dalam atheisme, saya pikir ada sedikit stigma yang melekat padanya,  Bahwa untuk menjadi Atheis anda harus pemarah dan main kecam serta menjadi anti-agama. Itu sama sekali tidak benar,” tegasnya.

“Bahwa ada sekumpulan orang  yang tidak percaya agama dan Tuhan manapun, dan mereka  hanya ingin menjadi orang baik dan bagian dari masyarat,” tambahnya.

Ruth Gledhill, wartawan The Times, mencatat bahwa pada satu pertemuan, sebuah puisi dibacakan dan secangkir anggur disahkan di depan jemaat, lalu ahli anggur berbicara dari depan tentang “buah pokok anggur.”

Para pendiri berharap untuk melihat 1.000 majelis “gereja” atheis  di seluruh dunia dalam satu dekade ini.

KRITIK NICK SPENCER

Tapi Nick Spencer, Direktur Penelitian Agama dan think tank Theos, mengatakan, kelompok serupa sebenarnya pernah dibentuk pada abad ke-19 dan menghilang dalam beberapa generasi.

Spencer mengatakan, alasan hadirnya majelis Atheis itu adalah “karena Anda membutuhkan lebih dari absen untuk membuat Anda bersama-sama, “ katanya. “Anda perlu sebuah ‘perusahaan’, dengan tujuan yang sama,” tambahnya.

Dia mengatakan orang-orang di gereja-gereja atheis modern ini  dipersatukan oleh “rasa adanya masyarakat.”

Nick Spencer menduga apa yang membawa orang-orang itu bersama-sama (dalam Majelis Minggu Atheis, pen) adalah keinginan yang nyata masyarakat ketika dalam kehidupan perkotaan, gaya hidup individualistik  seperti di London membuat Anda sering merasa sangat sendirian”.

Majelis Minggu itu menciptakan banyak persahabatan, akuinya. “Namun tantangannya kemudian menjadi : Apa yang sebenarnya menyatukan kita? ” tanyanya. – HP/abc/d

  • dungu

    stand up comedy baru :p

  • Hendra Subrata

    Mereka percaya mereka ada dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan…

  • waspada

    Salah satu sebab meningkatnya penganut Atheis, termasuk mungkin juga di Indonesia…adalah karena perilaku sebagian besar orang2 beragama…yg memahami agama secara dangkal..kebanyakan sdh merasa jadi penganut agama jika sdh melaksanakan ritual, pakaian dan aksesori luar yg dianggap mencerminkan ketaatan thd agama….padahal ahlak dan perilakunya sering melanggar norma2 agama…anehnya ini dilakukan juga oleh tokoh2 agama terutama yg di partai2. Beelum lagi aksi2 teror, kekerasan, menebar kebencian, mengklaim diri sebagai yg hanya berhak masuki surga dsb dsb….Pantas saja orang2 yg tdk memahami agama akan makin tdk simpati dan akhirnya jadi Atheis….Ajaran agama sebagai wahyu Tuhan telah di ditorsi oleh para pemeluknya dg semangat egoisme yg parah…padahal….jika difahami dg hati dan akal jernih,,,kebenaran itu ada di sana… Tuhan itu ada.