Wednesday, 26 September 2018

Nikah Seminggu Istri Hamil Suami Pun Amuk Tetangga

Jumat, 29 November 2013 — 9:39 WIB
nah-0-sub

BELI kambing atau sapi dalam kondisi hamil, senangnya bukan main. Tapi jika nikah 10 hari istri sudah hamil 3 bulan, bagaimana Sodikin, 30, tidak marah? Karena pemegang saham mayoritas ternyata lelaki tetangga, dia pun mengamuk habis-habisan dan Giman, 35, pelakunya wasalam……

Bagi penduduk kampung, sangatlah merasa beruntung saat beli sapi atau kambing ternyata kedapatan dalam kondisi hamil. Dia tak pernah memikirkan sapi mana atau kambing mana pelakunya. Yang ada dalam benaknya hanya satu: sekian bulan kemudian ternak piaraannya sudah bathi (untung), seekor cempe kecil atau pedhet.

Dan karena istri memang bukan sapi atau kambing, Sodikin sangat kecewa demi di malam pertama ketahuan bahwa bininya, Minul, 25, sudah dalam kondisi hamil 4 bulan. Karena saat ditanya siapa pelakunya dia menuding Giman lelaki tetangga, langsung saja sopir truk itu dicari dan dibabat golok serta merta. Giman pun tewas di tempat tanpa sadar apa yang menjadi penyebab harus pergi ke alam barzah begitu cepat.

Di Desa Dawuhan Lor Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang, Sodikin tergolong pemuda yang telat kawin. Teman sebarakannya sudah berumahtangga pada usia 25-27, dia sendiri dalam usia 30 tahun belum juga ketemu jodoh. Pengin juga sih ”mbelah duren” jatohan, tapi tak ada cewek yang mau dengannya. Di samping wajahnya sangat standar dan pasaran, Sodikin memang tidak punya pekerjaan tetap.

Dalam kondisi tak laku kawin macam wayang Burisrawa, kok Pak Badri, 56, tetangganya menawari nikah dengan ponakannya, Minul. Padahal gadis itu lumayan cantik, kok mau diberikan padanya yang tak punya modal apa-apa. Dengan penuh keraguan Sodikin pun ngaku terus terang bahwa mau sih mau, tetapi dari mana biayanya? ”Ngge nedha mawon repot, napa malih ngge rabi.” begitu dia beralasan.

Ternyata Pak Badri membesarkan hatinya. Tak perlu biaya, semuanya gratis, karena ada sponsor dari rokok Dunhill. Ibarat sepeda motor, baik pengurusan STNK maupun BPKB sudah ada yang tanggungjawab, tahunya Sodikin nanti tinggal nyemplak dan main gas maupun stater. Siang hari mau pakai lampu boleh, tak pakai lampu juga nggak papa. Dijamin tak bakal disemprit polantas.

Karena semua kebutuhan materil sudah siap dan dirinya tinggal gaco (modal) onderdil, ya sudah, oke pokoknya. Maka keluarga Minul segera menggelar hajatan, mantu. Nanggap wayang atau cuma campursari, tak diketahui pasti. Yang jelas malam harinya Sodikin berhasil menjalankan malam pertama dengan sukses. Sebagai anak muda yang awam, dia memang tak bisa membedakan mana yang skuter asli dan mana yang sudah rakitan India.

Tapi 10 hari kemudian dia baru kaget, karena tahu-tahu perut istrinya mulai nampak mlenis membesar, seperti sudah hamil 3 bulan. Minul pun ditanya, siapa yang mendahului, sebelum dirinya. ”Kan dealer sudah bilang, kalau belum 1.000 Km belum boleh dibuat boncengan?” begitu kira-kira omel Sodikin penuh tamsil ibarat.

Dengan takut-takut ternyata Minul menuding Giman, sopir truk tetangga sendiri. Langsung Sodikin marah besar. Dengan naik sepeda motor dia mencari lelaki itu di tempat pengolahan kayu.  Begitu ketemu, tanpa ba bi bu lagi dia langsung menyabetkan goloknya berulang kali. Giman sempat dirawat di RS Dr Haryoto beberapa jam, dan akhirnya tewas. Kini Sodikin jadi urusan polisi.

Jadi ”generasi penerus” kok dimasalahkan. (IC/Gunarso TS)