Sunday, 21 July 2019

Rupiah Terpuruk, Makanan Olahan Semakin Mahal

Selasa, 17 Desember 2013 — 23:45 WIB
ilusrupiah

JAKARTA (Pos Kota) – Hingga di penghujung 2013, nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan hingga level Rp12.200/dolar AS. Melemahnya rupiahnya ini diperkirakan bakal memicu naiknya harga minuman dan makanan olahan.

“Awal tahun 2014, harga minuman dan makanan bakal naik,” kata Sekjen Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Franky Sibarani, Selasa (17/12).

Sebab selain faktor melemahnya rupiah, ia mengaku ada beberapa faktor lain yang mendorong naiknya harga minuman dan makanan. Di antaranya naiknya harga gas alam, listrik dan upah.

Tahun depan, tarif dasar listrik (TDL) saja naik 38 persen, gas 20 persen. Demikian pula upah naik di atas 20 persen. Belum lagi melemahnya rupiah. Perlu diketahui sebagian besar atau sekitar 30 hingga 80 persen bahan baku produk makanan berasal dari impor. “Dengan melemahnya rupiah, praktis harga bahan baku juga naik,” jelasnya.

Meski banyak faktor yang berpengaruh naiknya harga minuman dan makanan, ia mengaku tidak bisa memperkirakan berapa besaran kenaikan harga masing-masing produk tergantung dari produsen bersangkutan.

Menurutnya, kenaikan harga makanan akan terjadi pada produk yang terbuat dari gandum serta menggunakan gula seperti mie instant, roti, biskuit, sirop dan sebagainya.

LANGKAH NYATA

Pengamat ekonomi Hendri Saparini mendesak pemerintah segera melakukan langkah nyata untuk meredam gejolak ini. “Pemerintah belum berani mengambil sikap tegas, melarang transaksi di dalam negeri tidak menggunakan dolar AS, tapi rupiah,” katanya.

Ia juga meminta pemerintah menutup kran impor terhadap produk yang tidak terkait dengan kepentingan orang banyak.

Sayangnya sampai sekarang pemerintah hanya mengutak-atik angka saja.Ini tidak menyelesaikan masalah. Terbukti nilai tukar dolar AS masih bermain di atas Rp12.000.

Hendri mengaku besarnya tekanan terhadap rupiah, terutama karena adanya ketimpangan yang begitu tajam antara demand dan supply terhadap dolar AS, disamping dibayangi isu pengurangan stimulus (tapering off) yang akan diambil The Fed, bank sentral AS.

Di dalam negeri, permintaan terhadap dolar AS masih cukup tinggi. Selain banyaknya perusahaan swasta yang membutuhkan dolar AS untuk membayar utangnya yang jatuh tempo, juga banyak impor barang konsumsi terutama untuk keperluan pemilu.

Ditambah banyak orang pada akhir tahun yang ingin berlibur ke luar negeri membutuhkan dolar AS. “Di sisi lain pasokan dolar AS yang masuk ke dalam negeri tidak sebanding dengan demand,” ujarnya.

Demikian pula penerimaan dolar AS yang berasal dari investasi yang masuk, juga tak banyak. Akibatnya, kebutuhan di dalam negeri tidak bisa terpenuhi. Namun, ia tidak mau memperkirakan rupiah ke depan akan bermain di level berapa. “Saya hanya katakan pemerintah harus cepat mengambil langkah konkrit untuk meredam gejolak rupiah ini,” tandasnya. (setiawan/bu)