Friday, 16 November 2018

Per 1 Januari

Harga Gas Elpiji Naik Rp47.700/tabung

Rabu, 1 Januari 2014 — 14:42 WIB
lpg1

JAKARTA (Pos Kota) – Pemerintah SBY memberi kado tahun baru kepada masyarakat berupa kenaikan harga gas elpiji 12 Kg Rp3.959/kg. Sementara itu, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) meminta kenaikan harga tersebut dinilai terlalu tinggi.

“Memang per 1 Januari 2014, kami menaikkan harga gas elpiji 12 kg,” kata Vice President Komunikasi Korporat Pertamina, Ali Mundakir, kepada poskotanews.com, Rabu (1/1).

Sehingga harga gas elpiji 12 kg yang semula Rp74.700 naik menjadi Rp122.400 naik Rp47.700/tabung. Kenaikan harga jual gas 12 kg ini untuk menekan kerugian perseroan yang tiap tahunnya di atas Rp5 triliun. Apalagi dengan melemahnya rupiah, kerugian makin besar, di atas Rp5,7 triliun.

Bahkan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam laporan hasil pemeriksaan pada Februari 2013, mengungkap Pertamina menanggung kerugian atas bisnis elpiji non subsidi selama tahun 2011 sampai Oktober 2012 sebesar Rp7,73 triliun yang hal ini dianggap menyebabkan kerugian negara.

“Kalau diakumulasi kerugian perseroan sejak 2009 hingga 2013 mencapai 22 triliun,” jelasnya. Menyinggung kekhawatiran kenaikan harga elpiji 12 kg akan memicu migrasi konsumen ke gas elpiji 3 kg,  Pertamina saat ini sudah  mengembangkan sistem monitoring penyaluran gas elpiji 3 kg yang dimulai Desember 2013.

Dengan adanya sistem ini, menurutnya,  dapat memonitor penyaluran elpiji 3 kg hingga pangkalan berdasarkan alokasi daerahnya. “Ke depan, kami tidak menambah pasokan ke agen gas 3 kg, karena sudah tahu berapa kebutuhan agen tersebut,” tandasnya.

Anggota pengurus harian YLKI, Tulus Abadi, kenaikan harga gas elpiji ini merupakan kesalahan pemerintah yang tidak tegas menetapkan harga jual gas 12 kg. Sehingga Pertamina menaikkan harga gas elpiji 12 kg.
“Jadi boleh dibilang Pemerintah SBY melalui Pertamina memberi kado tahun baru kepada masyarakat berupa kenaikan harga gas elpiji 12 kg,” ucapnya.

Meski kenaikan harga kewenangan Pertamina sepenuhnya, ia menilai kenaikan tersebut terlalu tinggi. Ini akan memukul masyarakat. “Seharusnya Pertamina menaikkan harga jual tidak sekaligus. Tapi perlahan-lahan. Berkisar 25 persen atau 30 persen,” katanya.

Sebab kalau sekaligus begitu, ia memperkirakan tidak menutup kemungkinan pengguna gas elpiji 12 kg akan beralih ke gas elpiji 3 kg serta praktik pengoplosan makin marak. “Ini akan terjadi. Apalagi kalau pasokannya tidak ditambah. Kelangkaan gas 3 kg tak bisa dielakkan lagi,” kata Tulus. Sehingga pada akhirnya, pemerintah bisa kebobolan. Bukan tidak mungkin biaya subsidi makin membengkak. (setiawan)

  • Dudung

    Enak aja rugi kog dibebankan ke rakyat, pertamina nga profesional.

  • ato giat

    JK bilang gas berlimpah..

  • mio

    Gilak.. yg make jg msh byk rakyat kelas menengah yg ngirittt.beli yg biru untk pake 2 bulanan..blum lg msh pd takut pake yg warna ijo. Klo rugi,biaya produksinya dipikirin.biaya operasional sgala bidang diliat lg.dampaknya kan kmana2..kbutuhan lain bisa jd pd naik.sedih banget deh negara ini.

  • Dir Sudirjo

    koQ Ujuk” … geol ahhh, tariiikkkkkk …
    tutupen botolmu , … oplosan muarakkkkk
    lgi ngetrend hew