Tuesday, 22 May 2018

Singa Koleksi KBS Mati, Walikota Surabaya Resah

Rabu, 8 Januari 2014 — 17:33 WIB
kbs1

SURABAYA (Pos Kota) – Singa jantan koleksi Kebun Binatang Surabaya (KBS) ditemukan mati di kandangnya, Selasa (7/1). Singa (Panthera Leo) jantan yang memiliki panjang tubuh beserta ekor 270 cm dan berat tubuh 225 Kg dan memiki nama Micheal itu, mati karena bagian lehernya terjerat tali sling pintu kandangnya sendiri. Saat ditemukan, posisi singa tersebut dalam keadaan menggantung dengan letak kepala di bagian atas layaknya orang gantung diri.

Dikatakan Agus Supangat, Humas PDTS KBS, tali sling yang berbahan timah itu memutar hingga menjerat leher Singa. “Posisinya memang ekstrem, seperti orang bunuh diri,” katanya di sekitar lokasi kandang Singa KBS bersama wartawan, Rabu (8/1).

Berdasarkan hasil otopsi medis pihak KBS, Micheal tewas karena mengalami gangguan di saluran pernapasannya. “Kejadiannya diperkirakan malam, saat penjaga tidak ada di lokasi,” terang Agus.
Atas kematian Micheal, koleksi Singa KBS kini tinggal lima ekor. Empat ekor di antaranya berkelamin betina, dan seekor lagi berkelamin jantan.

Melihat adanya kejadian ini, pihak tim identifikasi dari Polrestabes Surabaya mendatangi KBS. Namun sayang, otopsi sudah dilakukan sama pihak KBS lebih dulu. “Kami tidak dapatkan hasil dari otopsi ini, sebab jasad singa sudah dibelah sama pihak KBS,” keluh petugas tim identifikasi.

Tragedi kematian Singa Afrika menarik perhatian Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Selanjutnya menggelar rapat audit bersama Direktur Perusahaan Daerah Taman Satwa KBS dan tim kajian yakni 12 akademisi dari Universitas Airlangga (UA) membedah persoalan KBS dan mengamati berbagai aspek.

Di antaranya hukum, keuangan, aset, manajemen, keselamatan, serta standar operasional. Direktur PDTS KBS Ratna Ahjuningrum mengutarakan mulai perkara pajak, sistem kelembagaan manajemen, konflik berkepanjangan di KBS hingga kondisi karyawan dan atmosfir sistem kerja yang dianggap terbelah antara pihak like dan dislike.

Hal tersebut berpengaruh hingga saat ini. Karena itu, disampaikan keputusan yang bisa dilakukan PDTS KBS adalah memposisikan neraca awal dengan melihat apakah itu hutang, modal, atau aset. “Ada uang kas berbentuk 15 rekening dengan total sekitar Rp159 miliar. Namun keputusan hukumnya seharusnya sesuai Perda yang dibuat Juli 2012,” ucap Ratna di tengah-tengah rapat. (nurqomar/yo)