Saturday, 22 September 2018

Maju Dengan Tempe

Rabu, 15 Januari 2014 — 9:33 WIB

Pagi hari, diawal tahun 2014, gerimis masih terus saja turun. Hawapun menjadi dingin. Jalan-jalan di perkampungan masih sepi dan basah. Banyak penghuni yang masih terlelap tidur setelah menikmati malam pergantian tahun.

Dari jauh muncul seorang pedagang berjalan santai dengan tampah di kepalanya, dan jinjingan tas dari anyaman plastik. “Jualan apa, bu” tegurku. “Pecel pak, beliin dong pak!”, katanya merajuk, sambil menengok kearah saya yang terus berjalan menjauh. Tapi rasa keinginan tahu terus menggoda. “Tunggu bu!”. Saya menuju tempat yang teduh dan, bu Caim mengikuti dari belakang. “Ada pecel, ada jadah dan ada gorengan”, kata bu Caim, perempuan berumur sekitar 50 tahun. Pakaiannya rapih, berjalan dengan tegap. Bahasanya santun.

Pecel dengan lontong 4 ribu, kalau ditambah gorengan atau jadah jadi 5 ribu. Jadah goreng satu ribu, gorengan tempe 500 rupiah. Sambil ngobrol sayapun pesan pecel dan membeli 5 potong gorengan jadah. Menjawab pertanyaan iapun bercerita, bahwa asal dari sebelah barat kota Pekalongan, persisnya dekat pabrik gula Gondang. Suaminya dan anaknya yang besar jualan tempe. “Suami dan anak saya jualan pakai motor”, katanya bangga. “Jadi punya dua motor bu”, tukasku. “Saya juga kalau urusan lain pake motor, pak”, sambil tersenyum. Ternyata keluarga inipun sudah mempunyai rumah sendiri di Jakarta. Suaminya sudah 30 tahun usaha di Jakarta, sedang bu Caim baru 15 tahun. “Sebelum ke Jakarta saya ngurus anak-anak yang masih kecil”.

Sekarang anaknya yang masih sekolah tetap berada di kampung bersama mbahnya. “Sekolahnya disana lebih murah, dan godaannya kurang, pak”, tambahnya. Liburan ini mereka semua berada di Jakarta, kelihatan muka cerah bu Caim.

Bu Caim dan keluarganya, telah memiliki rumah dan motor. Mereka membeli motor dengan angsuran. “Disini kita perlu motor untuk usaha, pak. Juga untuk transpor”, ia berusaha menjelaskan. “Habis di kampung seperti ini tidak ada angkutaan umum. Angkot hanya satu, pakai angkot harus pindah-pindah. Jadinya mahal”, tambahnya.

Bisa dimengerti mengapa keluarga bu Caim harus mempunyai 3 buah motor. Kehidupan yang membaik, tidak menyurutkan bu Caim untuk menelusuri jalan-jalan di kempung menjual pecel dan jadah dengan berjalan kaki. Penghasilan bersih bu Caim antara 50 sampai 70 ribu setiap hari. Dia tidak menghitung tenaga yang dikeluarkan. Mereka harus membayar angsuran sepeda motor. Kehidupan yang keras di Jakarta dijalani dengan ketekunan dan keceriaan. Tampak di wajahnya.

Kehidupan Jakarta, masih terus menjadi magnet bagi masyarakat pelaku ekonomi rakyat. Itulah yang menjadikan gelombang urbanisasi. Yang diperlukan adalah geliat ekonomi didaerah, sehingga ekonomi rakyat mempunyai peluang yang sama dibandingkan Jakarta.

Para tokoh penggerak masyarakat, jangan beramai-ramai ingin jadi caleg atau capres. Jadilah kader pembangunan di daerah, kader penggerak ekonomi rakyat. Daerah lebih memerlukannya! (rahardi@ramelan.com)