Friday, 21 September 2018

Perempuan Diharapkan Lebih Banyak Lagi Jadi Anggota DPR

Selasa, 21 Januari 2014 — 14:55 WIB

JAKARTA (Pos Kota) – Pembangunan negeri ini perlu tangan dingin dari kaum perempuan. Oleh karena itu, maka kaum perempuan perlu lebih banyak duduk di DPR. Partisipasi politik mereka harus ditingkatkan untuk bisa merebut kursi di parlemen.

“Perempuan bukan hanya memperjuangkan hak-hak kaumnya, tapi juga perlu memberikan sentuhan kaum iku dalam membangun negeri ini,” kata Ayu Anastasia, peneliti Women Research Institute, di Jakarta.

Menurut dia, posisi perempuan di legislatif terus diperkuat secara norma aturannya. Dalam UU Pemilu, setiap parpol wajib menyertakan 30 persen keterwakilan perempuan di parlemen. “Tapi, nyatanya yang bisa masuk ke parlemen tak mencapai angka itu, karena kalah bersaing dalam Pemilu,” katanya.

Women Research Institute pekan lalu melaporkan, 58 persen responden yang ditelitinya setuju bahwa makin banyak perempuan di parlemen, maka kepentingan perempuan akan makin diperjuangkan.

Sebanyak 1.200 responden yang disurvei berjenis kelamin perempuan dan laki-laki. Responden laki-laki menyatakan setuju caleg perempuan sebanyak 26 persen, sedangkan responden perempuan sebanyak 32 persen. Yang menjadi masalah, sekarang tetap kurang yang duduk di parlemen, dan berbagai kepentingan perempuan lebih dirumuskan kaum laki-laki.

“Ada dua hal yang sudah menjadi perdebatan dalam dunia politik. Yakni, lelaki menganggap perempuan tak punya kemampuan menjadi anggota DPR. Atau menganggap isu perempuan juga dapat diperjuangkan lelaki,” kata Ayu Anastasia, peneliti Women Research Institute, di Jakarta.

Peneliti dari Universitas Indonesia Chusnul Mariyah mengatakan, seharusnya konstitusi menyebut adanya keadilan jender sehingga memaksa undang-undang untuk melakukannya. Ia juga mengajak kalangan aktivis perempuan agar menagih parpol soal perjuangannya terhadap nasib perempuan.

“Biasanya kan yang ada transaksi tertutup. Tapi kita minta transaksi terbuka, kalau mereka memperjuangkan perempuan di parlemen dan di kabinet, kita akan kampanye untuk partai itu,” katanya.

Melihat politik sekarang yang serba pragmatis, Chusnul menyarankan para perempuan politisi agar memperjuangkan suaranya tanpa keluar uang. Tapi, anggota Komisi VIII dari Fraksi Gerindra Sumarjati Arjoso yang kini jadi caleg nomor satu pesimistis bisa terpilih karena masyarakat makin pragmatis. “Meskipun nomor satu, belum tentu juga. Sekarang ini uang, uang dan uang,” katanya.

(winoto/sir)