Tuesday, 18 September 2018

Banjir

Senin, 27 Januari 2014 — 10:57 WIB

“SEUMUR hidupku baru Jumat malam pekan lalu aku merasakan banjir masuk ke rumah,” kata Dul Karung setelah mengucapkan assalamu alaykum dengan fasih.

Kemudian, tanpa menunggu jawaban, dia melemparkan bokongnya ke salah satu bagian yang kosong dari bangku panjang semata wayang yang ada di warung kopi Mas Wargo. Seperti biasa, tangan kanannya menyambar singkong goreng yang masih kebul-kebul. Dengan didahului ucapan bismillah digigitnya singkong itu dengan lahap.

“Berapa dalam?” tanya Mas Wargo seraya menyodorkan segelas teh manis kepada Dul Karung sebelum dipesan.
“Sebatas mata,”jawab Dul Karung seraya menerima gelas teh yang disodorkan Mas Wargo.

“Lalu bagaimana cara kau keluar rumah untuk menyelamatkan diri?
Sepanjang yang kuingat kau tidak bisa berenang,”tanya orang yang duduk tepat di kiri si Dul.
“Berjalan seperti biasanyalah. Bahkan sambil melafalkan beberapa ayat Surah Nuh, Nabi yang pernah dilanda tsunami itu,”kata Dul Karung dengan kalimat yang membuat orang tercengang dan penasaran.

“Rasanya Nabi Nuh pun takkan bisa membuka mulut di tengah air yang menenggelamkannya sampai sebatas mata. Kalau bohong yang
masuk akallah, Dul?” sungut orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Kalau aku bohong, gantung aku di Monas,”jawab Dul Karung yang lalu menyeruput teh manisnya.
“Tapi kau terendam sampai sebatas mata kan?” tanya orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung, dengan penasaran.
“Betul. Tapi bukan sebatas mata kepala. Melainkan mata kaki,” kata Dul Karung seenaknya.

Dan suara huuuuuu yang panjang pun keluar dari berbagai mulut hadirin yang ada di warung.
“Aku senang melihat cara Pak Jusuf Kalla menyantuni korban banjir.

Setiap kali ada orang yang ingin memujinya, atau bahkan sebelum itu, beliau lebih dulu memuji masyakarat, TNI, polisi, dan para relawan yang kata beliau telah lebih dulu bekerja dengan penuh semangat,” ujar orang yang duduk tepat di sebelah kanan Dul Karung, tiba-tiba.

“Jadi menurutmu para petinggi dan pejabat yang meninjau korban banjir atau korban bencana alam lainnya, tak perlulah turut mengaduk masakan dapur umum? Kau anggap itu hanyalah aksi pencitraan belaka, ya?” kata Dul Karung serayangeloyor pergi. (syahsr@gmail.com )