Tuesday, 13 November 2018

Salah Satu Penyebab Banjir

Banyak Setu Berubah Fungsi Jadi Perumahan

Senin, 27 Januari 2014 — 23:52 WIB
setu

BOGOR (Pos Kota) – Banyaknya setu atau embung yang berubah menjadi daratan, merupakan satu penyebab dari banjir yang melanda tanah air. Rusaknya setu akibat buruknya perawatan, harus menjadi perhatian semua pihak.Data menyebutkan, hanya ada 35 persen setu yang ada di wilayah Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi berfungsi baik. Sisanya sudah dalam kondisi buruk, terganggu bahkan tidak jelas karena kering dan berubah menjadi daratan.

Badan Geospasial Indonesia (BIG) pada tahun 2013, melakukan pemetaan setu di Jabotabek. Hasil dari pengamatan citra satelit ini mencatat, ada  204 setu di Jabotabek memiliki volume daya tampung hingga 16,3 juta meter kubik. “Selain melalui citra satelit, kami  juga mengecek langsung di lapangan. Data yang kami dapat, ada 74 setu dalam kategori buruk, 46 situ terganggu, 11 sudah kering dan berubah menjadi daratan. Sisanya 73 situ masih dalam kondisi baik,” kata Nurwadjedi, Deputi Informasi BIG.

Ditambahkan, pihaknya juga melakukan kajian terhadap kondisi setu beradasarkan badan setu. “Kajiannya berupa, apakah telah terjadi penyusutan luas, batas serta fungsi setu. Apa vegetasi air serta kuailitasnya. Hasilnya hanya 35 persen kondisi situ masih dalam kondisi baik, sedangkan sebagain besar kondisinya buruk bahkan ada yang sudah menjadi dataran serta berubah menjadi pemukiman,” ungkapnya.

Data yang ada, di Bogor terdapat 99 setu. Pada tahun 1990 luas semua setu mencapai 500,27 Ha. Namun menyusut pada tahun 2000 menjadi 437,35 Ha. Kemudian naik lagi pada tahun 2010 menjadi 438,66 Ha. Sementara untuk DKI Jakarta, terdapat  21 setu dengan luas keseluruhannya mencapai 176 Ha. Seiring perkembangan kota metropolitan, luas setu susut menjadi 137,1 Ha di tahun 2010. Penurunan luas situ sekitar 22,3 persen menjadi penyebab banjir di Jakarta.

“Selain luas setu berkurang, juga terjadi pendangkalan yaang berdampak pada menurunya daya tamping air,” papar Nur. Setu Atap di Tangerang menurut Nur, merupakan salah satu dari banyak kasus setu yang berkurang luasnya karena dijadikan perumahan oleh pengembang.

Menurut Nur, Setu Rorotan di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, juga sama nasibya dengan Setu Atap. Bahkan lebih tragis, Setu Kayumanis di Tanah Sera Kota Bogor, Rawa Kendal dan Rawa Penggilingan di Jakarta Timur sudah kering. (yopi/yo)