Wednesday, 21 November 2018

Musim Paceklik, Buruh Nelayan Menumpuk Hutang

Minggu, 2 Februari 2014 — 19:30 WIB
Ilustrasi

Ilustrasi

INDRAMAYU (Pos Kota) – Penderitaan yang menimpa ribuan buruh nelayan di Indramayu semakin bertambah lengkap.

Setelah pemukiman mereka direndam banjir, kini kondisi cuaca di lautpun semakin memburuk. Hujan deras sering turun, angin kencang dan ombak tinggi.

Dampaknya  ribuan Anak Buah Kapal (ABK), juru mudi dan nahkoda kapal ikan nelayan hanya bisa menumpuk hutang karena sama sekali tak mempunyai penghasilan selama musim paceklik. Padahal, walaupun masa paceklik namun biaya hidupnya tetap harus terpenuhi.

Hujan, tiupan angin kencang serta gelombang tinggi membuat para nelayan kalah bersaing dengan alam. Kondisi cuaca yang tak menguntungkan para nelayan itu semakin menambah panjang masa paceklil yang dialami mereka tahun ini.

“Kehidupan para nelayan benar benar sedang terjepit. Nelayan tengah dilanda musim paceklil yang berkepanjangan karena cuaca buruk di laut,” ujar Suaedi, 47 seorang nahkoda kapal ikan di Desa Eretan Wetan.

Bukan hanya Suaedi yang terpaksa harus menganggur di rumah karena cuaca buruk itu. Banyak nahkoda-nahkoda kapal ikan di sejumlah pantai di Indramayu lainnya yang mengalami masa paceklik.

Bodong, 17 salah ABK Jaya Makmur mengaku sudah menumpuk hutang sekitar Rp1 juta karena menganggur sejak musim banjir hingga sekarang  atau sudah 3 minggu terakhir ini.

Waryo, 16 ABK yang lainpun mengaku terpaksa menumpuk hutang demi menutupi kebutuhan hidup selama menganggur. “Hutang saya sudah melebihi Rp1 juta ke juragan atau pemilik kapal,” katanya.

Pada masa paceklik ini juragan kapal ikan terpaksa harus menyiapkan uang ekstra untuk dihutang para ABK termasuk juru mudi dan nahkoda yang umumnya menganggur karena cuaca di laut buru.(taryani/d)