Saturday, 22 September 2018

Coba-Coba Menjadi `Seniman` Pakai Jurus Ilmu Kepiting

Senin, 3 Februari 2014 — 12:46 WIB
nah-sub-1

JIKA ada lelaki paling nekad se-Tanjung Redeb (Kaltim) mungkin Kabul, 25, lah orangnya. Tahu kekasihnya dikawin teman, masih ditelateni juga. Dengan jurus “ilmu kepiting” dia mencoba mendekati Yayuk, 40. Tentu saja suaminya tak terima, sehingga Kabul pun dibacok, untung tak sampai wasalam.

Menjadi seniman (seneng istri teman) atau senior (seneng istri orang), resikonya memang ngeri-ngeri syedap. Jika pemilik otoritas sampai mengetahuinya, bisa gawat. Maka para praktisinya banyak yang menggunakan jurus “ilmu kepiting”. Maksudnya: semisal orang mau menyeberang sungai, masukkan kaki satu dulu, jika kena capit kepiting langsung tarik dia punya kaki. Jika aman, baru masuk kaki kedua, sampai kemudian ngrubyuk dan sampailah  ke ranjang asmara!

Ilmu semacam ini yang sedang diperagakan oleh Kabul, karyawan perusahaan katering di Tanjung Redeb Kabupaten Berau. Lantaran eks kekasih yang sudah dikawin orang masih bekerja di perusahaan yang sama, dia tetap berusaha mendekati. Padahal mustinya, begitu tahu Yayuk sudah diambil orang, ya sudahlah mencari perempuan lain. Memangnya lebar daun kelor hanya sejagad?

Kenapa Kabul masih ngotot dan terkiwir-kiwir pada Yayuk yang berusia jauh di atasnya? Bayangkan, 25 lawan 40, apa nggak alot? Tapi itulah cinta, tak pandang muda maupun kemampo (setengah matang), sehingga Kabul tak mampu melupakan. Apa lagi Yayuk sendiri sepertinya memberi angin, sehingga dia pun berusaha masuk lewat jurus ”ilmu kepiting” itu tadi. Awalnya dia hanya ngobrol-ngobrol dengan Yayuk.  Karena Budi, 35, suami Yayuk yang juga teman Kabul tak bereaksi, dia tambah berani lagi, ngajak jalan entah ke mana.

Lama-lama ”si kepiting” tahu juga ulah Kabul, sehingga dia mencoba menegur istrinya, untuk tidak bergaul berlebihan dengan Kabul yang lama-lama bisa jadi musuh dalam selimut. Tapi Yayuk tak menggubris saran suaminya. Bahkan ketika diminta keluar dari perusahaan katering tersebut, jawaban Yayuk sengkring (menyakitkan) sekali. Katanya, ”Aku lebih baik kehilangan kamu daripada kehilangan pekerjaan.”

Budi sendiri sangat mencintai Yayuk, sehingga demi menjaga stabilitas nasional rumahtangganya, dia yang memilih pindah pekerjaan lain. Tapi sebelum meninggalkan perusahaan katering tersebut, Budi berpesan pada Kabul agar menjaga persahabatan ini. Sama-sama merantau dari Jatim ke Kaltim, tujuannya hanya untuk mencari makan, karenanya jangan sampai makan istri teman.

Tapi Kabul ternyata tak bisa menjaga amanah. Meski sudah diminta bergaul sewajarnya saja, eh…..Yayuk malah digauli sekalian! Prinsip anak muda ini mungkin, selagi ”si kepiting” tidak lagi mengawasi, apa salahnya Yayuk ”dicapit” sendiri. Yang penting jagung bakarane, wani tanggung krokotane (baca: bertanggungjawab).

Belakangan kondisi rumahtangga Budi memburuk, bahkan kemudian Yayuk meninggalkan rumah tanpa pamit. Sudah barang tentu Budi kelimpungan. Menduga dibawa kabur Kabul, dia mencoba mencarinya ke mess tempat tinggal Kabul. Namun celaka tiga belas, bukannya dapat informasi yang jelas, justru Kabul dan teman satu mess meledeknya habis-habisan. ”Yok apa koen iku, nduwe bojo ayu-ayu gak diurus, digondhol gagak kapok (kamu ini bagaimana, punya bini cantik ditelantarkan, digondol gagak baru tahu rasa),” kata Kabul dan teman-teman.

Budi yang sedang pusing kehilangan istri, malah diledek seperti itu, jadi kalap. Golok yang ada di balik bajunya langsung dicabut dan disabetkan ke tubuh Kabul. PIL istrinya itu ambruk mandi darah, sementara Budi langsung melarikan diri. Tapi 3 bulan kemudian, tepatnya akhir Januari 2014 kemarin, Budi berhasil ditangkap di Bulungan.  Yang bikin suami Yayuk ini sedikit lega, ternyata Kabul hanya luka-luka, tak sampai mati. Itu artinya,  hukuman yang bakal diterimanya kelak tak terlalu berat.

Ini ibu Budi……., Budi bakal jadi napi! (JPNN/Gunarso TS)

  • rengga irawan 779

    hihihi jann ngawur … thanks mas Gunarzo

  • Lilin Juita

    Istrinya murahan