Saturday, 22 September 2018

Pengobatan Kanker Terkendala Mitos

Rabu, 5 Februari 2014 — 8:41 WIB
tosker52

JAKARTA (Pos Kota)- Penanganan penyakit kanker terkendala oleh sejumlah mitos yang menyesatkan soal kanker itu sendiri. Mitos yang berkembang subur dimasyarakat tersebut kata Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes Ekowati Rahadjeng selama ini telah membuat penyakit kanker tumbuh subur dan kasusnya terus meningkat dari tahun ke tahun.

“Sulit menangani kanker selama mitos sesat terkait kanker masih berkembang di tengah masyarakat,” papar Ekowati, kemarin.

Mitos seputar kanker tersebut antara lain bahwa tak perlu bicara kanker, tidak ada gejala atau tanda-tanda kanker, tidak ada yang bisa dilakukan dengan kanker dan tidak punya hak untuk mendapatkan perawtaan kanker.

Menurut Ekowati kanker adalah jenis penyakit yang bisa disembuhkan. Asalkan ditemukan sejak dini. “Peluang untuk sembuh jauh lebih besar ketika kanker ditemukan pada tahapan dini, ” jelas Ekowati.

Kanker bukanlah penyakit keturunan, meski ada juga yang karena genetik. Itu artinya semua orang, siapapun memiliki risiko terkena penyakit kanker jenis apa saja.

Karena itu tidak pada tempatnya jika orang mentabukan bicara kanker, tidak mau mengetahui kanker atau tidak peduli dengan kanker. Sebab dengan mengetahui kanker, orang akan bisa melakukan tindakan pencegahan, bisa melakukan keputusan pemeriksaan ketika mengalami salah satu gejala yang dicurigai kanker.

Ketidakpedulian orang terhadap kanker, lanjut Ekowati membuat sebagian besar penderita kanker mendatangi rumah sakit pada stadium lanjut. Situasi tersebut jelas akan mempersulit tindakan pengobatan dan penanganannya.

Terlebih pada sejumlah kasus, penderita kanker acapkali lebih percaya pada obat-obatan herbal atau obat alternatif. Padahal kanker membutuhkan pengobatan medis yang sifatnya lebih pasti.

Menurut Ekowati, munculnya mitos salah seputar kanker dan banyaknya orang yang percaya pada obat herbal menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan kanker. Itu sebabnya, Kemenkes bekerjasama dengan organisai profesi, LSM dan instansi lainnya terus berupaya melakukan soialisasi tentang deteksi dini kanker.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan pada tahun 2005 orang yang mati karena kanker diperkirakan mencapai 7 juta per tahun, kasus baru 11 juta per tahun dan orang hidup dengan kanker mencapai 25 juta.

Pada tahun 2030, kasus tersebut diperkirakan akan meningkat 3 kali lipat yakni angka kematian akibat kanker mencapai 17 juta, kasus baru 27 juta dan orang yang hidup dengan kanker mencapai 75 juta. Dari jumlah tersebut 70 persen diantaranya berada di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

“Kanker itu seperti gunung es, kasus yang muncul di permukaan sedikit padahal di bawahnya banyak sekali masalah yang belum tersentuh. Maka dari itu, harus ada pencegahan kanker yang memiliki pijakan berupa registrasi,” tandas dr Drajat R Suardi, SpB(K) Onk dari Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI). (inung)

FOTO ILUSTRASI